“Pemerintah harus betul-betul antisipasi hal-hal beban pemerintah yaitu subsidi energi, beban utang, khususnya utang luar negeri,” tegasnya. Ketua Komisi VII DPR Gus Irawan Pasaribu melihat, kejatuhan rupiah mengacaukan asumsi APBN yang telah dirancang. Saat ini rupiah terus merosot bahkan ke level yang lebih ekstrem hingga jatuh ke Rp14.400 per dolar AS.
“Asumsi nilai tukar dalam APBN memang harus dirubah. Akan kesulitan kalau tidak terutama dalam penentuan harga minyak dan pembayaran utang luar negeri,” ujarnya.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara memastikan pemerintah akan terus mengawasi pergerakan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia sendiri telah menyiapkan kebijakan untuk mengatasi itu.
“Pergerakan ini kami waspadai terus semuanya. Otoritas yang melakukan kebijakan, Bank Indonesia sudah mengambil kebijakan untuk itu,” ujarnya.
Suahasil menjelaskan, alasan rupiah melemah terhadap dolar AS disebabkan berbagai faktor misalnya seperti suku bunga acuan yang masih tinggi sehingga pelaku pasar memilih untuk menaruh uangnya di AS untuk memperoleh keuntungan.”Suku bunga Amerika relatif lebih tinggi dan diperkirakan masih akan naik,” katanya.
(rmol)





