Selain itu penerapan HET adalah cara instan yang justru bukan menjadi solusi untuk menjaga stabilitas harga beras. Banyak tempat penggilingan padi tutup karena harga gabah sudah lebih tinggi daripada HET,” jelas Hizkia,rabu(10/1).
Kebijakan HET dan operasi pasar juga tidak fair karena menekan pedagang kecil, padahal yang dapat profit margin terbesar justru pemilik penggilingan dan pedagang grosir dan tengkulak.
Kalau hal itu dipaksakan, para pedagang bisa saja memilih untuk tidak jualan, seperti yang terjadi pada Oktober 2017 lalu di Pasar Induk Cipinang di mana pasokan beras berkurang drastis setelah HET diterapkan. Atau bisa saja tetap berjualan tetapi berasnya dioplos dengan yang berkualitas buruk.
Untuk itu, CIPS mendorong pemerintah membuka keran impor untuk menstabilkan pasokan dan harga beras.
“Pemerintah bisa memanfaatkan kerja sama MEA dengan mengimpor beras dari Thailand atau Vietnam yang harganya lebih murah dari Indonesia,” papar Hizkia. (wah)





