Setelah kerjasama selesai, Ade pun mulai membuka usahanya sendiri hingga sekarang dengan terus memproduksi Fins Batik. Dalam satu bulan ia bisa memproduksi 75 set dengan dibandrol per setnya Rp250 ribu -Rp550 ribu.
“Pesanannya kebanyakan dari luar negeri ya kalau yang udah jadi langganan itu Jepang, Jerman, Prancis, Australia, Spanyol dan kalau yang lokal paling Bali, Lombok dan Mentawai kemarin yang terbaru,” tuturnya.
Tentunya setiap mendapat orderan, Ade Rabig selalu merangkul warga sekitar untuk membuat Fins. Bahkan Ade pun kerap mengajarkan anak-anak uda disana cara membat Fins.
“Kalau dulu mungkin belum terlalu banyak ya jadi bikin saya sendiri, kalau sekarang wah udah kewalahan jadi saya merangkul warga disini untuk ikut membantu juga dan saya berharap ada regenerasi uga kedepan,” ucap pria yang kini berusia 56 tahun itu.
Ade Rabig kini bangga dengan kearifan lokal batik Indonesia lantaran kini Fins batik buatannya bisa dikenal luas di mancanegara.
“Kebangggan saya, saya bisa mengangkat nama batik mendunia dan secara tidak langsung di logo juga ada Cimajanya, sehingga mampu mengangkat promosi pariwisata yang ada di sini banyaklah kebangganya terutama handmade ini karena mereka lebihmenghargai handmade dan bangganya lagi orang-orang asing itu mereka lebih menghargai handmade,” terangnya. (wdy)






