Dia menyebut jumlah impor beras yang rencananya akan dilakukan akhir Januari 2018 tidak signifikan dibanding kebutuhan konsumsi beras masyarakat per bulan sebesar 2,5 juta ton per bulan.
“500 ribu ton itu setara dengan (kebutuhan) enam hari,” ungkapnya. Sehari sebelumnya, Amran masih bersikeras mengatakan stok beras masih aman. Apalagi bulan depan sudah masuk panen raya dengan potensi produksi mencapai 4,9 juta ton atau surplus 3 juta dari stok minimal.
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori mempertanyakan keputusan pemerintah mengimpor beras. Soalnya, jika merujuk data Kementan dan BPS, kebutuhan beras masih cukup. Dia juga menilai keputusan membuka kran impor saat ini sangat terlambat dan berpotensi mubazir jika merujuk pada data Kementan.(wdy/rmol)





