IRAN — Sabtu pagi di Minab, Provinsi Hormozgan, suara tawa anak-anak perempuan di sebuah sekolah dasar mendadak terhenti. Dentuman keras mengguncang, merobohkan dinding-dinding kelas, dan mengubah ruang belajar menjadi puing-puing. Sedikitnya 40 orang tewas, termasuk para pelajar, sementara 48 lainnya terluka.
Bagi keluarga korban, tragedi ini bukan sekadar angka. Ia adalah kehilangan yang tak tergantikan. Buku-buku yang berserakan, tas sekolah yang tertutup debu, dan papan tulis yang retak menjadi saksi bisu atas serangan yang menargetkan masa depan generasi muda.
Media Iran melaporkan, serangan Israel menyasar sekolah tersebut pada Sabtu pagi. Amerika Serikat dan Israel menyebut langkah itu sebagai upaya menghilangkan “ancaman” dari Iran. Namun bagi warga Minab, yang mereka rasakan hanyalah duka dan ketakutan.
Di tengah puing, seorang ayah terlihat memeluk erat seragam sekolah anaknya yang berlumuran debu. “Dia seharusnya belajar, bukan menjadi korban perang,” katanya lirih. Kalimat itu menggambarkan luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar kerusakan fisik.






