SUKABUMI, RADAR SUKABUMI – Sekelompok pemuda dan pemudi menari dengan gerakan dan busana yang khas. Ini disebut Liliuran dan Ngahiras. Sementara itu, sejumlah anak-anak tampak lihai menggocek bola api. Ada juga pertunjukan cambuk api yang mendebarkan. Dan pamungkasnya, sebuah lisung yang tiba-tiba mengamuk saat diangkat oleh beberapa orang.
Ya, begitulah ragam atraksi wisata budaya yang ada di Sentra Budaya Palapah, Desa Waluran, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi yang menyambut kedatangan tim dari PigiJo, Desa Wisata Nusantra Jawa Barat dan mahasiswa Vanguard Desa Wisata.
Pendiri Sentra Budaya Palapah Cahya Sukendar mengatakan, salah satu yang menjadi atraksi ikonik adalah tarian Liliuran dan Ngahiras.
“Liliuran itu laki-laki. Ngahiras itu perempuan. Penar liliuran tidak pakai baju mengartikan bahwa pada dasarnya semua manusia sama. Tidak ada pangkat derajat. Semua kembali ke alam. Sedangkan ngahiras, wanita pakai baju berbahan dari alam dibentuk seperti rompi, sebetulnya itu mengartikan tentang kesederhanaan,” kata Cahya kepada Radar Sukabumi, Jumat (4/2).
Cahya menjelaskan, makna dari tarian liliuran dan ngahiras adalah menunjukkan rasa gotong royong. Tarian ini bertujuan untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat betapa pentingnya nilai gotong royong yang menjadi karakter masyarakat Sunda sejak zaman dulu.
“Tarian ini tercipta pada 2016 lalu. Tari ini berakar dari tradisi masyarakat, bahwa masyarakat di Sunda sangat kental dengan gotong royong. Namun saat ini sudah mulai sulit ditemukan, sehingga tarian ini menyampaikan pesan untuk mengajak bergotong royong,” ujar Cahya yang juga kreator tarian liliuran.
Selain liliuran dan ngahiras, seni budaya yang ada di Sentra Budaya Palapah sendiri beragam dan ikonik. Seperti bermain bola api, cambuk api, dan lisung ngamuk. Tak hanya itu, potensi lainnya adalah produk UMKM masyarakat setempat yang akan dikembangkan sehingga menjadi sebuah produk paket wisata di Waluran.
“Untuk boles atau bola api. Ini terbuat dari kelapa yang direndam miyak tanah dan dibakar, dimainkan oleh anak-anak yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Sehingga memainkan bola api ini aman. Ada juga cambuk api yang harus berdasarkan bimbingan dari orang yang sudah paham cara memainkannya. Lalu ada lisung ngamuk. Lisung yang diangkat oleh beberapa orang. Ketika pawang sudah dimainkan, maka lisung ini seolah-olah tak terkendali. Orang yang mengangkatnya susah mengendalikannya. Karena muter-muter. Bahkan maju mundur sendiri,” beber Cahya.
Sementara itu, Creative Director Pigijo Faisal Rahim mengaku sangat takjub pada seni budaya yang ada di Sentra Budaya Palapah Waluran.
“Begitu masuk dengan penyambutannya, disajikan oleh atraksi-atraksi yang luar biasa, sangat magical gitu. Mulai dari tarian liliuran, ngahiras, sampai atraksi bola boles, lisung ngamuk dan cambuk api. Kami sangat amaze pada atraksi tersebut,” kata Faisal.
Faisal juga mengungkapkan, tempat-tempat wisata yang ada di Waluran juga sangat potensial dan kaya. Menurutnya, wisata dan budaya di Waluran harus diinformasikan ke dunia internasional. Apalagi lokasinya terbilang dekat dengan Geopark Ciletuh atau Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark (CPUGGp) yang menjadi ikon Sukabumi.
“Tempatnya juga sangat mendukung. Kami pikir di Waluran sangat kaya budaya yang banyak orang belum tahu. Menurut kami itu butuh diinformasikan ke dunia,” ujar Faisal.
Menurut Faisal, wisata di Waluran dapat diintegrasikan dengan Geopark Ciletuh. Ketika wisatawan pulang dari Geopark Ciletuh, maka bisa mampir untuk menyaksikan atraksi budaya di Sentra Budaya Palapah Waluran.
“Kami dari Pigijo sebagai travel marketplace akan berusaha maksimal dan sangat mendukung paket wisata di Sentra Budaya Waluran dan Geopark Ciletuh,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Ketua Desa Wisata Nusantra Jawa Barat Agus Ramdhan mengatakan, kunjungan tersebut merupakan rangkaian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Riset Tekonologi (Kemendikbud Ristek) dengan Dewisnu Jabar dan Pigijo. Ada tiga lokus desa wisata yang ditempatkan mahasiswa magang, salah satunya Sentra Budaya Palapah di Waluran.
“Kami sangat mendukung. Kita sudah lihat, ternyata luar biasa. Kami berharap adanya paket wisata yang berkelas dunia sehingga tiga lokus desa wisata bisa menggambarkan Sukabumi dengan gurilapsnya,” kata Agus Ramdhan.
Tiga lokus tersebut, sambung Agus, yang pertama Kampung Raden Desa Wisata Cisande di Kecamatan Cicantayan, Kampung Lahang Desa Gedepangrango di Kecamatan Kadudampit dan Sentra Budaya Palapah di Waluran.
“Orang habis dari Jembatan Gantung Situgunung bisa mampir ke Kampung Lahang. Kemudian setelah dari pemandian Cimelati, bisa mampir ke Kampung Raden Desa Wisata Cisande. Dan sepulang dari Geopark Ciletuh, bisa mampir ke Sentra Budaya Palapah di Waluran. Kami dari pelopor desa wisata sudah menyiapkan itu semua yang menggambarkan paket wisata sehingga bisa menarik wisatawan datang ke Sukabumi,” ungkap Agus. (izo)






