Warga Sukabumi, “Takbiran di Rumah Saja”

  • Whatsapp
Suasan tradisi sehari jelang Hari Raya Idul Fitri yaitu takbiran. FOTO: Ilustrasi/dok Radar Sukabumi

SUKABUMI – Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriyah tahun ini masih dirayakan dengan bayang-bayang pandemi COVID-19. Walhasil pemerintah terpaksa melakukan segala upaya agar penyebaran virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok itu dapat segera ditekan. Salah satunya adalah melarang tradisi berbau lebaran seperti mudik.

Terkini, Pemerintah Indonesia juga telah melarang kegiatan takbir keliling pada malam Idulfitri. Menurut Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, takbir keliling tersebut berpotensi menimbulkan kerumunan dan membuka peluang penularan Covid-19.

Bacaan Lainnya

Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM NU) Kabupaten Sukabumi menghimbau agar takbir pada malam Idul Fitri dilakukan di masjid masing-masing tanpa harus berkeliling. Pasalnya, ditengah kondisi pandemi Covid-19 takbir keliling berpotensi menimbulkan kerumunan massa.

Ketua LTM NU Kabupaten Sukabumi Muhammad Jihad mengungkapkan, penyebaran Covid-19 di Kabupaten Sukabumi hingga saat ini belum berakhir. Sehingga, pihaknya meminta masyarakat dapat menahan diri untuk melakukan aktivitas yang dapat memancing kerumunan massa.

“Takbir keliling dan berbagai kegiatan yang berpotensi tak mungkin menghindarkan kerumunan sebaiknya dihindari. Namun hal itu tak boleh memadamkan nyala syiar keagamaan. Karena itu,mengimbau kepada umat Islam, khususnya warga NU untuk menghindari kegiatan takbir keliling di malam Idul Fitri 1442 Hijriah,” terangya saat dihubungi Radar Sukabumi, Senin (10/5).

Pada prinsipnya, selama angka penyebaran Covid-19 belum terkendali dan program vaksinasi belum selesai, maka kebijakan pembatasan pergerakan masih perlu dilakukan. Karena itu, umat Islam cukup menggemakan takbir di rumah atappun di masjid.

“Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan kita bisa menggemakan takbir dari rumah, surau, mushalla, masjid dan berbagai tempat ibadah lainnya. Sekali lagi syaratnya mematuhi protokol kesehatan,” ucapnya.

Jihad menilai, himbauan yang disampaikannya tersebut merupakan salah satu bentuk ikhtiar dan demi keselamatan bersama agar terhindar dari Covid-19.

“ikap seksama merupakan wujud ikhtiar yang diajarkan agama, bukan ketakutan yang bersifat paranoid,” singkatnya.

Di tempat yang lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah pun mengimbau agar tradisi takbiran dilaksanakan di rumah masing-masing guna menghindari potensi penularan COVID-19.

“Tidak dianjurkan takbir keliling. Takbir boleh dilakukan di masjid atau musala selama tidak ada jemaah yang terindikasi positif COVID-19 dengan pembatasan jumlah orang dan menerapkan protokol kesehatan,” katar Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto dalam konferensi pers, Senin (10/5/2021).

Menurutnya, takbir di rumah masing-masing tidak mengurangi euforia perayaan Idul Fitri. Bahkan jika hanya melibatkan anggota keluarga dapat tercipta suasana kerohanian dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Sikap seksama merupakan wujud ikhtiar yang diajarkan agama, bukan ketakutan yang bersifat paranoid,” katanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1442 Hijriyah atau Idul Fitri jatuh pada Kamis 13 Mei berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

“PP Muhammadiyah berdasarkan metode hisab yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid bahwa hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriyah jatuh pada hari Kamis tanggal 13 Mei 2021,” kata Agung. (upi/izo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *