Sementara itu, salah seorang keluarga korban TPPO, Muhammad Dania Ramadan (23) asal warga Kampung Selaawi, Desa Jambenengang Kecamatan Kebonpedes kepada Radar Sukabumi mengatakan, bahwa pamannya yang menjadi korban TPPO dan tengah disekap di Negara Myanmar itu, diketahui bernama Samsul Hasan.
“Itu paman saya yang menjadi korban TPPO di Myanmar yang viral di media sosial itu. Jadi, paman saya itu berangkatnya ke sana itu, awalnya ajakan dari temennya yang sudah ada kerja disana,” jelasnya.
Awalnya, teman pamannya tersebut telah mengajak korban untuk bekerja di Negara Thailand. Namun, faktanya dialihkan bekerja ke Negara Myanmar. “Awalnya yang saya tahu itu, kerjanya di pabrik, tapi disananya gak jelas informasinya bekerjanya dimana. Kalau berangkat itu setelah Lebaran Idul Adha 2024. Berati sampai sekarang itu, paman saya ada di Myanmar sudah ada sekitar 4 atau 5 bulan jalan yah,” imbuhnya.
Awalnya, pamannya tersebut sempat komunikasi dengan pihak keluarga melalui telepon seluler dengan kurun waktu sekitar 15 menit. “Katanya, dikasih waktunya cuman sebentar untuk telepon keluarga di Sukabumi oleh bos-nya itu,” ujarnya.
Pihak keluarga sempat berusaha mencari keberadaan pamannya tersebut. Namun, tidak lama setelah itu, pamannya tersebut langsung memberikan kabar melalui telepon seluler. “Iya, itu pas begitu ngabarin disana itu nelepon sambil nangis-nangus, katanya pengen pulang disana, ada sekitar satu bulan ke belakang itu teleponnya,” jelasnya.
Saat komunikasi melalui telepone, korban telah bercerita kepada pihak keluarganya terkait gaji. Selain itu, jika ada kesalahan dalam bekerja, maka upahnya akan dipotong. Bahkan, apabila ada kesalahan dalam satu menit pun, upahnya langsung dipotong.
“Tapi terkait lebih rincinya, itu tidak jelas ya, dan paman saya juga tidak menjelaskan ke pihak keluarga, karena takut atau kenapa gitu. Namun yang jelas, paman saya itu sudah pengen pulang, udah gak betah dan disekpa serta diperlakukan tidak manusiawi disananya,”imbuhnya.
“Putus komunikasi itu pas berangkat 1 bulan ke sana, mulai komunikasi itu gak lancar. Biasanya, sempat ngabarin terkait kerjaannya gimana. Setelah satu bulan disana itu, putus komunikasi. Bahkan jarang satu bulan pun ngabarin ke keluarga,” paparnya.
Sementara, untuk biaya pemberangkatan saat hendak bekerja ke luar negeri, pamannya tersebut telah ditanggung oleh pihak temannya yang sudah bekerja dari negara Myanmar.
“Kemarin kami keluarga sama keluarga korban yang lainnya, sudah berusaha ke pihak SBMI di Jakarta, itu sudah berangkat 2 kali kesana, cuman masih menunggu informasi yang jelas dari sananya,” paparnya.
Pihaknya menambahkan, saat pamannya memberikan kabar pertama kepada pihak keluarganya tersebut, diketahui bahwa pamannya telah menginformasikan berada di Negara Thailand. “Namun, sekitar 2 bulan lalu, ngabarin lagi itu udah diambil alihkan ke Myanmar.
Jadi pihak paman ngasih tahu ke keluarga bahwa sekarang posisinya ada di Myanmar. Bahkan sempet kirim lokasi juga kesini, kirim lokasi juga alamatnya kesini itu ada di pihak keluarganya. Kemarin-kemarin, sempat ada kabar, katanya kalau ingin pulang ke Sukabumi, harus ada uang tebusan sebesar Rp50 juta per orangnya,” pungkasnya. (Den)






