BERITA UTAMAKOTA SUKABUMI

Walikota Sukabumi Datang, Unras Bubar

×

Walikota Sukabumi Datang, Unras Bubar

Sebarkan artikel ini
Aksi Mahasiswa Sukabumi
Massa aksi dari Aliansi Rakyat Sukabumi Menggugat sempat menduduki Bunderan Adipura, Kota Sukabumi sebelum akhirnya membubarkan diri setelah Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi datang menemui para pengunjuk rasa, Selasa (12/4).

SUKABUMI – Setelah berorasi sampai Pukul 21.00 WIB, massa aksi dari Aliansi Rakyat Sukabumi Menggugat akhirnya membubarkan diri. Sebelumnya, mereka bersepakat tetap berunjuk rasa sampai Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi dan Ketua DPRD Kota Sukabumi, Kamal Suherman datang.

Para pengunjuk rasa dari organisasi kemahasiswaan, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan masyarakat serta pengemudi Ojek Online (Ojol) sempat mengambil alih Tugu Adipura, Kota Sukabumi. Mereka sebelumnya sudah melakukan unras di depan Balaikota Sukabumi, kemudian bergerak ke gedung DPRD.

Bank bjb Tandamata

Pantauan dilokasi, sebanyak kurang lebih 1.700 masa yang melakukan unras tersebut untuk menyampaikan beberapa tuntutan. Diantaranya menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), menolak kenaikan bahan pokok, minyak, gas dan lainnya. Serta, menolak kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), tuntaskan Reforma Agraria di Indonesia, dan terakhir percepat Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Aksi hari ini kita menuntut beberapa persoalan. Kami meminta pemerintah untuk bisa menstabilkan harga BBM. Kemudian, kita menuntut kepada pemerintah terkait masalah kelangkaan dan tingginya harga minyak goreng,” kata koordinator aksi yang sekaligus Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Sukabumi, Sahrul Umar.

Mereka juga menuntut pemerintah daerah ikut andil menstabilkan kembali ketersediaan pasokan minyak goreng untuk masyarakat.

Apalagi masyarakat sebentar lagi akan menghadapi hari raya Idul Fitri. “Kami juga menolak terkait kenaikan harga bahan pokok, dampak dari kenaikan BBM. BBM jenis Pertalite langka ini juga berdampak terhadap bahan pokok. Inikan sangat menyengsarakan rakyat. Jangan sampai rakyat terus-terusan di cekik,” tegasnya.

Selama kurang lebih dua tahun ini, masyarakat menghadapi pandemi Covid-19. Aktivitas masyarakat terhambat. Sehingga, berdampak pada penurunan ekonomi juga. Hari ini wacananya, bagaimana ekonomi nasional tida berbanding lurus dengan kebijakan pemerintah pusat yang sangat menyengsarakan rakyat.

“Kita menuntut kepada pemerintah daerah agar memastikan ketersediaan Pertalite itu tidak langka. Kedua, kami juga meminta bahan pokok ini harganya stabil untuk di daerah.

Lalu memastikan ketersediaan minyak goreng, jangan sampai kembali mengalami kelangkaan. Kita juga menuntut konflik reforma agraria yang terjadi di Indonesia, khususnya di Sukabumi,” bebernya.

Sementara itu Koordinator Aksi, Anggi, menjelaskan bahwa masa aksi berkumpul di bundaran Adipura ini dengan tujuan untuk menunggu dari para stakeholder tertentu.

Masa aksi menginginkan Walikota Sukabumi, Ketua DPRD Kota Sukabumi, dan juga perwakilan anggota DPR RI yang tadi juga ada, untuk datang ke bundaran Adipura. Massa aksi menginginkan berdialog langsung semua disini.

“Selama mereka tidak hadir disini, kami pastikan tidak akan membubarkan diri. Karena kenapa kami ingin disini, kami ingin semua ada disini sebagai bentuk keberpihakan dari pemerintah daerah, para wakil rakyat dari Sukabumi.

Apakah memang benar ada di barisan dengan rakyat atau mereka pada akhirnya menyerah kepada penguasa,” tegasnya.

Yang ditunggu-tunggu massa aksi pun akhirnya datang. Sekitar pukul 21.00, Walikota dan DPRD Kota Sukabumi mendatangi massa aksi. Para pengunjuk rasa pun akhirnya mulai membubarkan diri.

“Kami akan melihat tindak lanjut dari kesepakatan ini. Kalau dua hari kedepan apa yang menjadi tuntutan kami masih belum digubris, kita akan melakukan aksi susulan dengan mendatangkan massa lebih banyak lagi,” teriak salah satu orator aksi.

Sementara itu, Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Sy. Zainal Abidin mengatakan, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa berjalan kondusif, walau pun sampai malam.

“Semua masa aksi kondusif, tertib dan terkendali sesuai apa yang kita harapkan. Tanpa harus kita menyuruh membubarkan, massa aksi membubarkan diri dengan sendirinya setelah tuntutanya terjawab,” ucap Zainal.(cr1/t)