Terungkap, Ini Kata PVMBG Soal Pergerakan Tanah di Gegerbitung

  • Whatsapp
PENINJAUAN : BPBD Kabupaten Sukabumi bersama petugas gabungan saat mengecek lokasi retakan tanah di Kedusunan Suradita, Desa Ciengang Kecamatan Gegerbitung.

SUKABUMI — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, akhirnya angkat bicara soal pergerakan tanah yang merusak puluhan rumah penduduk di Kedusunan Suradita, Desa Ciengang Kecamatan Gegerbitung.

Koordinator Mitigasi Gerakan Tanah pada PVMBG, Agus Budianto mengatakan, gerakan tanah yang terjadi di wilayah tersebut, secara geografis terletak pada koordinat 106° 59′ 33.70″ BT, 07° 00′ 4.45″ LS. “Menurut informasi dari masyarakat disekitar lokasi penyelidikan, gerakan tanah berupa retakan terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi dan dalam waktu yang cukup lama,” jelas Agus kepada Radar Sukabumi, Minggu (24/01/2021).

Bacaan Lainnya

Gerakan tanah terjadi di Blok Balekambang, RT (16/07) Dusun Suradita, Desa Ciengang itu, sudah terjadi sejak 2006 dan sudah dilakukan relokasi pada tahun 2007. Namun masih ada saja warga yang menggunakan lokasi tersebut sebagai lahan pesawahan.

“Jenis gerakan tanah yang menerjang wilayah tersebut, adalah jenis rayapan yang berupa berupa retakan pada lereng bagian atas di kebun warga sepanjang 65 meter dengan arah longsoran N350°E, dengan tinggi tebing 60 meter,” ujarnya.

Retakan ini berada pada lereng perkebunan yang mengancam pemukiman di Kampung Suradita, RT 17 dan 18/RW 08 dan juga jalan desa yang berada di bawahnya. Sementara, untuk gerakan tanah di Blok Balekambang, Kampung Suradita RT 15 dan 16/RW 07, Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, berupa retakan dikarenakan tarikan dari gerakan tanah lama yang berada pada lereng bagian bawah dengan arah longsoran N17°E.

“Kondisi daerah bencana, secara morfologi daerah Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, secara umum berupa perbukitan dengan kemeringan antara curam – terjal atau kemiringan 20-60º dengan elevasi 800-1150 mdpl. Daerah bencana di Kp. Suradita, RT 17 dan 18/RW 08 merupakan bukit dengan kemiringan lereng 50° sampai 60°,” paparnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Geologi di lokasi bencana, daerah bencana tersusun oleh breksi yang lapuk berwarna coklat dengan matriks tuff berwarna putih dengan tanah pelapukan berupa pasir berwarna coklat dengan ketebalan 1 sampai 2meter. Berdasarkan peta Geologi Lembar Bogor (Effendi, dkk. 1998). Blok Balekambang termasuk kedalam formasi Kecamatan Nyalindung, berupa batupasir glokonit gampingan berwarna hijau, batulempung, napal, napal pasiran, konglomerat breksi, dan batugamping.

“Untuk Kampung Suradita berdasarkan Lembar Jampang Balekambang, Jawa Barat, (Sukamto,1975), daerah penyelidikan termasuk kedalam Formasi Beser Anggota Cikandang, terdiri atas breksi gunungapi, breksi lahar, breks tufa, tufa, dan konglomerat. Sedangkan Lava ancesit (arggota Cikondang) membentuk bukit-bukit kasar,” imbuhnya.

Sementara, tata guna lahan pada daerah bencana berupa kebun campuran pada bagian atas, kebun bambu pada bagian tengah dan pemukiman pada bagian bawah. Sedangkan kerentanan gerakan tanah, berdasarkan peta prakiraan potensi terjadi gerakan tanah pada November 2019 di Kabupaten Sukabumi yang dilakukan Badan Geologi, daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah-tinggi.

“Artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah, jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Pada zona ini gerakan tanah lama dapat aktif kembali,” bebernya.

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *