BERITA UTAMA

Spanduk Tolak Demo di Pendopo Sukabumi Bikin Polemik, Siapa Dalangnya?

×

Spanduk Tolak Demo di Pendopo Sukabumi Bikin Polemik, Siapa Dalangnya?

Sebarkan artikel ini
Sejumlah spanduk penolakan aksi demo terbentang di depan Alun-alun Kota Sukabumi, Kamis (22/1). Spanduk yang mengatasnamakan sopir angkot dan warga ini menuai polemik karena dibantah oleh para pengemudi angkot.
Sejumlah spanduk penolakan aksi demo terbentang di depan Alun-alun Kota Sukabumi, Kamis (22/1). Spanduk yang mengatasnamakan sopir angkot dan warga ini menuai polemik karena dibantah oleh para pengemudi angkot.

SUKABUMI – Munculnya tiga spanduk penolakan aksi damai Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) PPPK Paruh Waktu di sekitar Gedung Negara Pendopo Sukabumi, Kamis (22/1), menimbulkan tanda tanya besar. Spanduk yang mengatasnamakan sopir angkot dan warga Kota Sukabumi itu justru dibantah oleh para pengemudi angkot.

Pantauan di lokasi menunjukkan spanduk terbentang di pepohonan depan Alun-alun Kota Sukabumi, tepat di seberang pintu masuk Pendopo. Tulisan di spanduk menyebutkan penolakan aksi unjuk rasa karena dianggap mengganggu aktivitas usaha dan masyarakat.

Bank bjb Tandamata

Namun, sopir angkot yang disebut dalam spanduk menegaskan tidak pernah menolak aksi tersebut. “Kami tidak merasa menolak demo di Pendopo. Itu tidak benar,” ujar BS (40), sopir angkot trayek Cisaat–Sukabumi. Hal senada disampaikan Boeng (45), sopir trayek Bhayangkara–Sukabumi, yang menilai spanduk itu berpotensi memecah belah masyarakat kecil. “Ini jelas adu domba. Kami tidak pernah menyatakan penolakan,” tegasnya.

Petugas parkir di lokasi, Hermawan, juga mengaku kaget melihat spanduk yang tiba-tiba terpasang pada dini hari. Ia menilai aksi demonstrasi di Pendopo sudah menjadi hal biasa dan bahkan memberi keuntungan bagi pedagang kecil.

“Kalau ada demo, pedagang asongan malah laku keras,” ujarnya.

Sementara itu, rencana aksi damai ribuan GTK PPPK yang tergabung dalam Aliansi Honorer Nasional (AHN) akhirnya dialihkan menjadi audiensi di Gor Pemuda Cisaat. Koordinator aksi, Mohammad Hadiq Wafid, menyebut keputusan ini diambil setelah koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kepolisian. “Sejak awal tujuan kami adalah menyampaikan aspirasi melalui dialog. Audiensi lebih elegan dan aman,” katanya.