Jika dibiarkan terus begini, Tandim khawatir banyak nelayan beralih penghidupan. “Dari 50 kapal yang sama seperti saya, sekarang hanya tersisa 4 kapal. Itu pertanda ada sirkulasi ekonomi yang salah,” terangnya. Selain itu, nelayan yang dikenal vokal ini berharap, pemerintah bisa lebih tegas mengatur penggunaan alat tangkap bolga.
Ketua RW Kampung Nelayan Cemara Baru ini berkisah, kebanyakan warganya terbelit kemiskinan. “Jadi nelayan hari ini itu seperti berjudi. Kita pasang dulu, hasilnya nggak tau menang atau kalah. Kita juga berangkat kadang-kadang BBM dan modalnya hasil pinjaman dari tengkulak atau bos. Kalau hasil tangkapan ada hutang bisa dibayar, jika tidak maka hutang tidak bisa dibayar, ” bebernya. Tandim tentu tak ingin, putra keduanya yang kini mengikuti jejaknya menjadi nelayan sambil menamatkan pendidikan di SMK Pelayaran, bernasib sama seperti dirinya dan teman-teman nelayan: terbelit kemiskinan.
Bantuan Pemerintah
Sependek ingatan Tandim, bantuan pemerintah juga jarang didapat. “Dulu awal-awal PLTU Palabuhanratu dibangun sejak 2008 dan beroperasi pada tahun 2014 ada tuh bantuan jaring kepada nelayan. Sejak tahun 2011 hingga 2013 sudah tidak ada lagi. Alasanya sudah ke HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia). Faktanya tidak sampai ke kami,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Jawa Barat Makrus menjelaskan industri petrokimia Balongan Indramayu yang membuang limbahnya ke laut, mempengaruhi tangkapan ikan dan rebon. Situasi serupa juga dikeluhkan nelayan Muara Gembong Bekasi.
“Kondisi nelayan sekarang kurang bagus, terutama nelayan tradisional. Kalau nelayan dengan mesin besar aman karena mereka bisa jauh, kalau nelayan tradisional ya susah menjangkau karena keterbatasan perahu, “ jelas Makrus. Dirinya berharap, pemerintah bisa menertibkan industri ataupun PLTU agar tidak mencemari lautan.
Tangkapan ikan nelayan, amat bergantung pada lingkungannya. “Jangan sampai sungai dijadikan tempat pembuangan limbah seperti di Muara Gembong, Bekasi sungainya hitam. Ketika masuk ke tambak bisa mempengaruhi ekosistem di tambak itu sendiri”. Makrus menyadari, kondisi saat ini dipengaruhi perubahan iklim, namun ia dan teman-teman tidak tahu bagaimana menghadapinya. Mereka berharap, pemerintah memberi jalan keluar.(hnd)






