SUKABUMI – Mulai hari ini, Jalan A Yani resmi ditutup oleh Pemerintah Kota Sukabumi. Ini dilakukan guna mengurangi keramaian yang selama tiga hari pemberlakukan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) masih terjadi. Tidak hanya itu, Jalan Pelabuhan II juga ikut ditutup sehingga akses menuju pusat keramaian terhenti.
Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi menjelaskan, hasil evaluasi pelaksanaan PSBB hari ketiga, pihaknya memutuskan untuk menutup Jalan A Yani dari semua kendaraan. Hal ini dilakukan untuk memngurangi keramaian di jalan tersebut, karena memang selama pelaksanaan PSBB jalan tersebut masih saja di padati masyarakat.
“Setelah mengevaluasi pelaksanaan PSBB selama tiga hari ini, kami memutuskan untuk menutup Jalan A Yani. Penutupan dimulai dari simpang Royal hingga BRI,” jelasnya kepada Radar Sukabumi, Jumat (8/5).
Tidak hanya Jalan A Yani, lanjut Fahmi, Jalan Pelabuhan II juga ditutup agar memutus akses ke pusat keramaian di Kota Sukabumi.
Namun begitu, kegiatan perekonomian seperti halnya pertokoan tetap buka dengan ketentuan yang telah diatur. “Kalau pertokoan masih buka. Karena memang dalam kondisi seperti ini, kegiatan perekonomian tetap harus berjalan dengan catatan tetap menerapkan protokol kesehatan maksimal dan melakukan psikal distancing serta sosial distancing,” terangnya.
Fahmi berharap, dengan apa yang dilakuaknnya ini, dapat mengsukseskan pelaksanaan PSBB di Kota Sukabumi. Dirinya juga menghibau masyarakat untuk tidak keluar rumah terkecuali berbelanja kebutuhan pokok atau kepentingan mendesak.
“Kami berharap meraeka yang tidak berepentingan tidak keluar rumah, keceuali yang belanja kebutuhan pokok,” tambah Fahmi.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Sukabumi, Faisal Bagindo menilai pemberlakukan PSBB di lapangan belum efektif. Tentunya Pemkot Sukabumi harus mengevaluasi kembali agar PSBB itu bisa berjalan sesuai tujuannya. Apalagi mengenai pergerakan orang di pusat perkotaan.
“Petugas gugus tugas harus melakukan penetrasi tanpa pandang bulu. Namun tidak kemudian melakukan penutupan toko-toko. Tapi harus diatur lagi agar tidak terjadi kerumunan seperti yang diberitakan oleh media massa beberapa waktu lalu,” ujar Faisal kepad Radar Sukabumi, Jumat (8/5).
Ia mengakui, memang perlu ketegasan dalam menertibkan kerumanan di pusat perkotaan. Namun harus dengan cara-cara yang humanis.







