Intinya humanis. Syukur-syukur sambil menggelotorkan bantuan modal bagi pedagang, sehingga tarap ekonomi masyarakat semakin meningkat,” paparnya.
Lajut Perli, jadi bukan memberikan bantuan untuk tinggal di rumah, tetapi memberikan bantuan berupa modal usaha supaya bisa terus meningkat. Sehingga, tidak terjadi ketergantungan. Sebab, jika sebatas sembako untuk tinggal dirumah, tidak akan cukup.
“Kami meyakini itu tidak akan mencukupi. Makanya biarkanlah masyarakat untuk melakukan transaksi, biarkanlah pedagang untuk berjualan, tetapi harus diperketat prokesnya.
Sehingga, diharapkan dapat meningkatkan ekonomi, bisa makan, bisa mendapatkan uang, bisa terjaga imunnya, dan stabil imunnya,” imbuhya.
Di sisi lain, dirinya mengapresiasi aparat dan Satgas Covid-19 karena sejauh ini sudah menjalankan tugas dengan baik secara humanis serta kemanusiaan.
Petugas melakukan komunikasisecara elegan, otomatis pedagang mematuhinya.
“Kami masih mematuhi aturan karena ada batasan-batasan dan kebijaksanaan, sesuai dengan apa yang disampaikan melalui surat imbauan dari pak bupati.
Kebijakan itu kan tidak ada perintah ditutup dan tidak ada perintah untuk tidak berjualan. Hanya saja harus hindari kerumunan,” jelasnya.
Selain itu, Perli juga menegaskan jangan sampai terjadi petugas yang membubarkan kerumunan dengan kerumunan.
Apalagi hanya membubarkan dua atau tiga orang yang berjualan dan pembeli dengan kerumunan.
“Alhamdulillah di Kabupaten Sukabumi tidak terjadi itu, meski sempat sedikit ada chaos tetapi tidak berbuntut panjang, karena sama-sama mengerti, sebagai pedagang mengerti kepada petugas atau satgas karena sedang bertugas, begitu pun sebaliknya.
Jadi intinya bukan soal dagang tetapi kerumunan,” pungkas Perli.(cr1/t)






