Setelah berlayar, sambung Ayi, sekitar pukul 10.30 WIB kapal Patroli Satpolair tiba di titik lokasi yang diduga adanya kapal yang karam dan melaksanakan pengamatan secara manual.
“Setiba di lokasi, petugas langsung mengecek kepastian koordinat, situasi arus permukaan, tidak menemukan tanda-tanda adanya kapal karam dan lokasi yang di duga adanya kapal karam tidak mengganggu alur pelayaran,” imbuhnya.
Setelah melakukan pengecekan, sekitar pukul 11.00 WIB kapal Patroli Satpolair langsung kembali menuju Dermaga 1 PPN Palabuhanratu dan pukul 12.20 WIB kapal Patroli Satpolair tiba dan sandar di Dermaga 1 PPN Palabuhanratu.
“Dalam upaya pengamatan dan cek lokasi keberadaan yang diduga kapal karam, terkendala dengan tidak adanya peralatan untuk melaksanakan pendeteksian benda di bawah laut,” timpalnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, perkiraan dari google map berkaitan dengan ukuran foto atau gambar yang diduga kapal karam itu, memiliki panjang 150 meter dan lebar 28 sampai 30 meter.
Sementara, posisi kapal dari pantai terdekat swmekitar 1,2 Mil dengan titik koordinat BT 6.972601 sampai 106.427192 LS.
“Saat ini, kita tengah melakukan upaya koordinasi dengan instansi yang memiliki alat pendeteksi logam di bawah laut dan melaporkan kegiatan ini kepada satuan atas,” paparnya.
Pihaknya menambahkan, hasil assessment dari lapangan, warga sekitar mengaku pada tahun 2017 pernah ada seseorang warga yang memuka Google Map dan melihat adanya foto serupa yaitu terlihat adanya bentuk kapal yang karam.
Setelah itu, pada tahun 2019 hal serupa juga pernah dilihat dengan foto yang sama.
“Lokasi yang di duga adanya kapal karam oleh penduduk nelayan lokal adalah tempat spot memancing.
Selain itu, tokoh nelayan juga menyampaikan bahwa adanya kapal yang karam sudah sangat lama, tetapi tidak diketahui pasti kapal apa dan kapan karamnya,” pungkasnya. (Den)






