Nelayan setempat, menyebut kapal karam tersebut Badong.
“Iya, hampir semua nelayan di sini menyebutnya itu badong atau bangkai kapal. Bahak, nelayan Cikembang khususnya suka dijadikan sebagai area mancing,” ujarnya.
Menurutnya, bangkai kapal tersebut tidak terlihat dari permukaan air laut. Dirinya memperkirakan, kapal tersebut berada di kedalaman sekitar 40 meter dari atas permukaan air laut.
“Bila ditempuh dari darat sekitar 15 menit bisa sampai ke bangkai kapal itu,” imbuhnya.
Dirinya mengaku telah mengetahui keberadaan bangkai kapal tersebut pada tahun 2017 lalu setelah diberi tahu oleh sesepuh nelayan setempat.
“Pada waktu itu, saya bersama teman-teman sudah pernah bikin rumpon disitu. Itu kapal besar, karena kalau bangkai untuk istilah badong itu bisa untuk spot mancing karena dijadikan rumah ikan,” bebernya.
Sementara itu, Komandan Pos Angkatan Laut (Danposal) Palabuhanratu, Peltu Ede Ayi Jalaludin mengatakan, untuk memastikan adanya foto satelit di Google Map yang menampakan diduga adanya sebuah kapal karam di dasar laut Wilper teluk Palabuhanratu, akhirnya petugas gabungan melakukan pengecekan dengan tolak berlayar Kapal Patroli Satpolair Palabuhanratu yang dipimpin Kasatpolair, AKP Tri Andri Apandi di Dermaga 1 PPN Palabuhanratu.
“Sekitar lima personil melakukan pengecekan informasi ini. Iya, pada pukul 09.20 WIB Kapal Patroli Satpolair tolak dari Dermaga 1 menuju Wilper Cisolok,” katanya.






