Untuk penanganan kedepan, pihak Disdik tidak mau gegabah. Soalnya, pihaknya juga sudah memiliki tim yang akan menangani kasus ini. Meski kasusnya masih belum jelas secara pasti akibat tidak ada saksi orang tua yang sah untuk dijadikan saksi dimata hukum, tapi tentu pihaknya akan melakukan evaluasi kepada sekolah-sekolah khsusunya SD agar dalam proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik.
“Jujur kami terkejut dan prihatin yang sangat mendalam. Ya semestinya tidak terjadi pada siswa seusia mereka. Dan kami menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban dan masyarakat atas kejadian ini,” terangnya.
Saat ini, Disdik sedang berkoordinasi dengan semua pihak untuk melakukan pemulihan mental kepada korban dan pelaku terhadap kasus ini. Juga melakukan pembinaan yang intensif kepada kepala sekolah dan guru agar kasus ini tidak terulang kembali.
Namun, dirinya menjelaskan berdasarkan hasil penulusuran dilapangan, bahwa kasus ini sebetulnya akibat dari pergaulan anak dan kesalahan orang tua yang sudah memberikan Handphone (HP) kepada anaknya.
“Dari itu saya menghimbau kepada orang tua, agar setiap murid khususnya anak SD jangan dulu diberikan HP. Karena akibat melihat konten pornografi di HP, si anak prilakunya pasti menyimpang. Efek dari HP itu sangat luar biasa,” beber Iyus.
Kemudian, Disdik juga mengharapkan kepada setiap guru agar membuka ruang kontak entah melalui grup WhatsApp atau nomor orang tua murid agar bisa berkomunikasi langsung dengan orangtuanya.





