BERITA UTAMAFeaturedPENDIDIKAN

Mengenal KH Ujang Suja’i, Guru Madrasah yang belajar ke Jepang Hingga ke Maroko

×

Mengenal KH Ujang Suja’i, Guru Madrasah yang belajar ke Jepang Hingga ke Maroko

Sebarkan artikel ini

Dimomen hari guru nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November banyak terdapat cerita dari guru di pelosok negeri, salah satunya guru Madrasah Aliyah (MA), Ujang Suja’i (63) yang kini menjadi salah seorang sesepuh di Perguruan Yayasan Tarbiyah (Yasti) Cisaat. Sepanjang karir yang telah malang melintang di dunia pendidikan, pria paruh bayi ini pernah mengenyam pendidikan hingga ke Jepang dan Maroko.

Laporan Lupi Pajar Hermawan, Kecamatan Cisaat.

Bank bjb Tandamata

Selama dua tahun dari 1987 hingga 1989 Ujang Suja’i mendapatkan kesempatan pendidikan di Universitas Hirosima Fakultas Pendidikan mewakili Jawa Barat pada waktu itu. Dirinya diterbangkan ke negara matahari berkat prestasi yang gemilang sewaktu menjadi guru di Sukabumi.

Saat itu dari seluruh pelosok nusantara hanya 12 orang yang beruntung bisa mempelajari pendidikan yang diterapkan oleh Jepang. Pria berkacamata kelahiran 24 Mei 1955 ini banyak mendapatkan pelajaran penting tentang bagaimana melaksakan sebuah pendidikan.

Kepada wartawan Radar Sukabumi saat ditemui di kantor Yasti, Bapak yang kini sedang menempuh strata tiga (S3) di Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung ini bercerita tentang pengalamannya. “Saya dulu mendapatkan program dari Jepang untuk mengenyam pendidikan di Universitas Hirosima. Seleksi yang amat ketat hingga dua kali penyaringan, akhirnya memutuskan 12 orang guru dari Indonesia berangkat, saya salah satunya dari Sukabumi, Jawa Barat,” cerita dia.

Dari hasil pendidikan di Jepang, dirinya menemukan hal luar biasa tentang penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan secara demokratis. Artinya, di negeri yang terkenal dengan Yakuza itu pemerintah membebaskan setiap lembaga pendidikan untuk mengatur dan mengambangkan pola pendidikan yang dilakukan.

“Disana pendikan adalah hal yang paling diutamakan. Bahkan setelah Hirosima dan Nagasaki di bombardir oleh sekutu, pertama yang ditanyakan oleh kaisarnya adalah jumlah guru yang terisisa. Artinya, mereka beranggapan bahwa dari gurulah bakal lahir Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas sebagai penopang kemajuan negara,” terangnya.

Anak dari salah satu tokoh Sukabumi Mualim Owik Sarkowi itu meneruskan, bahwa pola pendidikan yang dilakukan Jepang disetiap wilayah sesuai dengan potensi yang ada didaerah tersebut. “Dulu di sekitar Hirosima itu ada Industri Otomotip raksasa, sinergisitas sekolah dan dunia industri di wilayah itu baik.

Bahkan, pihak sekolah sengaja menyediakan jurusan sesuai dengan bidang industri otomotif. Sehingga SDM yang dihasilkan dari sekolah tersebut langsung dapat beraktivitas di pabrik mobil itu dan ikut memajukan teknologinya,” ungkapnya.

Adapun hal mendasar yang didapatkan selama belajar dua tahun itu adalah tentang Filsafat Pendidikan. Dimana, keyakinan, kepatuhan dan kedisiplinan dunia pendidikan di Jepang dapat mengantarkan negaranya menjadi salahsatu negara yang maju di dunia.

“Pendidikan disana bukan tentang apa yang harus diajarkan, melainkan apa yang harus mereka pelajari dan gali dari lingkungan sekitar. Mereka berprinsip seperti matahari yang harus menyinari orang dan lingkungan disekitarnya,” bebernya.

Tidak sampai disitu, petualangan bapak yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah MAN Cibadak, Palabuhanratu dan Surade ini juga pernah mendapatkan kesempatan belajar di Maroko selama tiga bulan pada tahun 2011.

“Kalau ke Maroko itu program dari Kementrian Agama untuk mempelajari bagaimana pengelolaan pendiidkan luar sekolah (PLS) dalam bentuk pondok pesantren,” kata dia.

Sepulang dari dua negera tersebut, kini Ujang Suja’i yang tengah menyusun dua buku ini mencoba menerapkan pola pendidikan yang demokratis sesuai potensi yang ada di sekitar. Dirinya berharap, pemerintah juga dapat mendupliakasi tentang penyelenggaraan pendidikan pada negara yang sudah jauh berkembang dari Indonesia.

“Saya rasa jika diterapkan hal demikian, pengangguran tidak akan menumpuk seperti saat ini. Bahkan anak yang lulus sekolah pun tidak pusing lagi harus kerja apa. Manfaat jangka panjangnya negera kita akan berkembang pesat,” imbuhnya.

Ditanya soal hari guru nasional, dirinya hanya berpesan jadilah suri tauladan bagi murid dan lingkungannya, seperti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. “Guru itu adalah keteladanan, itu saja,” pungkasnya. (*)