BERITA UTAMAFeaturedKOTA SUKABUMI

Menelisik Sejarah Etnis Tionghoa di Sukabumi Sejak Tahun 1843

×

Menelisik Sejarah Etnis Tionghoa di Sukabumi Sejak Tahun 1843

Sebarkan artikel ini
Suasana di lokasi Vihara Widhi Sakti, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong yang sudah dipenuhi lampion.

RADARSUKABUMI.com – Suasana tahun baru Imlek dan Cap Go Meh di Kota Sukabumi sudah mulai dirasakan dengan banyaknya lampion di sejumlah titik di Kota Sukabumi. Namun rupanya, etnis tionghoa di Sukabumi keberadaannya sudah cukup lama sejak 1843 silam.

Laporan Lupi Pajar Hermawan, Radar Sukabumi

Bank bjb Tandamata

Siapa sangka, etnis tionghoa rupanya sudah cukup lama berada di Sukabumi. Dari catatan sejarah Yayasan Dapuran Kipahare, warga Tionghoa sudah jauh sekali berinteraksi dengan penduduk sukabumi yaitu sejak masuknya kebudayaan perunggu dari Dongson, gelombang kedua masuk saat penyebar-penyebar islam Tionghoa berdakwah disini masa sunan gunung jati, gelombang berikutnya masuk pekerja Tionghoa ke sinagar dibawa Tan Sioei Tiong tahun 1843, sesudah diawali jaman Daendels dengan dimasukannya para ahli perkebunan.

Tahun 1864 konsentrasi para pekerja Tionghoa itu didaerah gunungparang, cicurug dan ciheulang, mereka susah dibedakan dengan orang sunda karena bahasanya sunda dan sudah menikah dengan orang-orang sunda memunculkan istilah peranakan.

“Pasca UU Agraria yang disusul dengan pemisahan afdeling dan pembangunan rel kereta api gelombang berikutnya muncul beragam mulai para pengusaha perkebunan, para pedagang kelontong hingga pekerja rel yang bertahan di bedeng pekerja dan mulai bermukim,” jelas Irman Firmansyah, Ketua Yayasan Dapuran Kipahare kepada Radar Sukabumi, Selasa  (28/1).

Munculnya entitas Pecinan (Chinesekamp), hingga tahun 1900an warga Tionghoa melonjak menjadi 2.100 orang. Aturan kolonial mewajibkan segregasi tempat dan cara berpakaian, laki-laki rambut dikucir (tauchang), perempuannya berbaju kurung lengan panjang menghafirkan keunikan ragam budaya.

“Gelombang terakhir dimasa kolonial muncul saat modernisasi kota, sistem Kapiten dibentuk menghadirkan deretan Kaptoa (Kapiten Tionghoa) Sim Keng Koen, Lauw Tjeng Ki, Tan Tiam Leng dan Tan Giem Hok. Tahun 1920 jumlah warganya menjadi 2.776 jiwa,” sebutnya.

Kemudian, para raja bisnis legendaris seperti keluarga Zecha keturunan Grand Lady of Java yang rela menolong wabah kolera dengan berkeliling dijalan, Ek Tong pemilik cikal bakal bangunan walikota, Gouw Soen Tong sang raja Rollet pembangun Capitol, Tjiong Boen Hok raja tekstil Tjiboenar.

“Masih banyak pemilik perkebunan yang membentang mulai dari pasir jeding, Tenjojaya, panyindangan, citarik, terus ke timur sejumlah 46 perkebunan swasta,” ujarnya.

Pasca didirikannya Klenteng, warga Tionghoa yang menghormati leluhur mulai menyebar kearah selatan mendekati Klenteng dan hidup berdampingan dengan warga lain. Banyak masyarakat muslim bekerja di toko Tionghoa atau berjualan sekitar Klenteng seperti cakwe, gado-gado, sekoteng.

“Para pemuda muslim bnayak pula mengikuti olahraga Wushu dan Barongsay. Menjelang imlek Vihara yang berdekatan dengan musholla dibelakangnya, secara rutin menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang tidak mampu. Menunjukan tingginya toleransi masyarakat Kota Sukabumi,” pungkasnya. (*)