Staf Observatori Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung Wilayah Palabuhanratu, Andy Rachmadan menyebut, gelombang setinggi 6 meter yang menerjang kawasan pesisir di Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi itu terjadi karena sirkulasi udara di Samudera Hindia Barat.
“Ya, terdapat sirkulasi udara di Samudra Hindia Barat Kep. Mentawai. Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara dominan bergerak dari Tenggara-Barat Daya dengan kecepatan angin berkisar 5-35 knot. Sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan dominan bergerak dari Timur-Tenggara dengan kecepatan angin berkisar 5-25 knot,” kata Andy dalam keterangannya.
“Kecepatan angin tertinggi terpantau di Selat Karimata, Laut Natuna, Perairan Anambas-Natuna, Laut Natuna Utara dan Laut Arafuru,” tambahnya.
Oleh karena itu, ia meminta kepada warga yang berada di sekitar persisir pantai dan nelayan untuk memperhatikan risiko tinggi keselamatan pelayaran di tengah gelombang tinggi sesuai prediksi BMKG setinggi 6 meter.
“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada,” imbuhnya.
Selain itu, sambung Andy, harap diperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran, perahu nelayan (Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m), Kapal Tongkang (Kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 m).
“Lalu Kapal Ferry (Kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 m), Kapal Ukuran Besar seperti Kapal Kargo/Kapal Pesiar (Kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 m),” tandasnya.(ris/e)






