Laporan Langsung Relawan Radar Sukabumi di Semeru (1)

Lumajang
Fadli, salah seorang korban erupsi Gunung Semeru asal Kampung Renteng, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur memperlihatkan dua pas foto keluarga yang berhasil diselamatkan.

Hanya Bisa Selamatkan Dua Foto, Korban Inginkan Pindah Rumah

Erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang Jawa Timur masih menyisakan luka mendalam bagi warga yang menjadi korban. Fadli, salah seorang warga asal Kampung Renteng, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, harus merelakan kehilangan rumah serta harta bendanya saat bencana tersebut melanda.

WAHYU, Sukabumi

Bacaan Lainnya

Abu vulkanik masih menimbun bangunan-bangunan yang terkena dampak semburan erupsi Gunung Semeru. Bukan saja menelan banyak korban, musibah ini pun menyisakan pilu bagi mereka yang masih bisa bertanah.

Bersama istrinya, Satimah (40), Fadli misalnya, saat ia menyisir bagian rumah yang sudah tertimbun material abu vulkanik, ternyata barang-barangnya sudah tak bisa diselamatkan. Meski mendapat bantuan dari relawan yang berada di lokasi, Fadli hanya mampu menyelamatkan dua pas foto keluarga yang sudah dipenuhi abu vulkanik.

Kepada tim Radar Sukabumi bersama media lainnya, Fadli hanya bisa ikhlas dengan kejadian yang menimpanya. Ia pun berharap, bisa kembali mendapatkan tempat tinggalnya dari uluran tangan para relawan.

“Kalau pun tempat ini (rumah miliknya, red) bisa kembali di bangun, pastinya masih akan terjadi bayang-bayang dan itu membuat saya tidak nyaman. Saya berharap kepada relawan bisa mendapatkan tempat baru,” aku Fadli, Selasa (7/12).

Pria yang kesehariannya menjadi supir tambang ini pun masih kebingungan untuk menghidupi keluarganya. Sebab, profesi yang sudah digelutinya sejak tahun 2002 ini, membuat dirinya trauma.

Terlebih, hewan peliharaannya yang menjadi salah satu sumber penghasilan, semuanya tertimbun material abu vulkanik. “Ada 15 wedus (kambing, red) yang saya pelihara, semuanya tertimbun. Diperkirakan sekitar Rp30 juta,” terangnya.

Ia pun menceritakan awal mulanya bisa menyelamatkan diri dari kejadian mengerikan tersebut. Sekitar pukul 16.00 WIB, tiba-tiba langit arah barat rumahnya gelap gulita dan tiba-tiba air bercampur lumpur langsung menerjang sekitaran rumahnya.

Karena panik, ia bersama dua orang anaknya langsung menyalakan motor dan menyelamatkan diri ke rumah sanak saudaranya. “Saat itu cuaca gelap. Untuk menyalakan lampu kendaraan aja, cahanya hanya beberapa meter dari pandangan. Saat itu suasana sangat mencekam,” kenangnya.

Pasca kejadian sambung dia, dirinya baru kali ini melihat tempat tinggalnya yang sudah tidak bisa terselamatkan. Sebab sejak beberapa hari setelah kejadian, warga tidak diperbolehkan masuk ke lokasi.

Sementara itu ditempat lokasi bencana, relawan Radar Sukabumi bersama tim Gerakan Anak Negeri turut membantu warga mendirikan posko kesehatan yang tidak jauh dari lokasi bencana. Ada 15 relawan yang turut bergabung dalam rombongan . Di antaranya terdiri dari 2 dokter, 4 perawat, 3 tenaga pijat tradisional khas Cimande, hingga pecinta alam dari Unpak Bogor.

Koordinator Tim Gerakan Anak Negeri, Iqbal Muhammad mengatakan, tim juga membawa sebanyak 12 boks obat-obatan untuk membantu korban bencana erupsi Gunung Semeru. Tak hanya itu, tenaga pijat tradisional khas Cimande juga siap melayani masyarakat yang membutuhkan penanganan khusus.

“Semua kita kerahkan untuk membantu masyarakat, khususnya yang punya masalah kesehatan. Kita juga membawa ahli pijat khas dari Cimande,” terang Iqbal. Rencananya, Posko Kesehatan Gerakan Anak Negeri ini akan buka selama seminggu ke depan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.