Langkah-langkah kecil terus diambil. Pos penjagaan didirikan. Patroli diperkuat. Desa konservasi mulai dirancang sebagai alternatif mata pencaharian. Pemerintah tak ingin hanya menutup tambang, tapi juga membuka harapan.
Kolonel Inf Tuwadi dari Kodam III/Siliwangi menyebutkan bahwa pasukan tempur dan Babinsa telah diterjunkan untuk mendampingi masyarakat. “Kami ingin mereka tahu, tambang ilegal bukan hanya melanggar hukum, tapi juga merusak masa depan anak cucu mereka,” ujarnya.
Sementara itu, AKBP Bentung Marsoyo dari Bareskrim Polri menegaskan bahwa proses penyidikan akan diperkuat. “Kami tunggu koordinasi dari Kementerian Kehutanan. Kami siap mendukung penuh,” katanya.
Di tengah semua itu, Kepala Balai TNGHS, Budi Candra, berdiri di antara 32 personel Polhut yang ia pimpin. Jumlah yang tak sebanding dengan luas kawasan yang harus dijaga. Tapi semangat mereka tak surut. “Kami libatkan semua pihak. Kami ingin desa-desa sekitar menjadi benteng konservasi,” tuturnya.
Gunung Halimun Salak masih berdiri kokoh. Tapi di balik hijaunya, ada luka yang harus disembuhkan. Dan pagi itu, langkah-langkah senyap para penjaga hutan menjadi awal dari pemulihan panjang. Sebuah babak baru, di mana alam tak lagi ditambang, tapi dijaga. Di mana suara mesin digantikan oleh suara burung. Di mana bumi kembali bernapas.(hnd)






