“Kemudian lari ke test ke samaptaan tadi pagi, itu diawali dengan sarapan seperti biasa SOP kita, sarapan dibariskan dari GOR kemudian menuju lapang Cangehgar untuk pelaksanaan test kesamaptaan,” terangnya.
“Yang bersangkutan nomor dada 066 dan almarhum itu yang disematkan waktu pembuaan test waktu CAT seminggu sebelumnya, jadi yang yang bersangkutan itu telah melewati beberapa kali tahap, itu yang minggu sebelumnya dilaksanakan test wawasan kebangsaan bela negara pendidikan pancasila,” ucapnya.
Ditegaskan Tri, sistem CAT merupakan test melalui handpone anak oleh BPIP pusat dan Bakesbangpol tidak ikut didalamnya sehingga yang menentukan dari pusat melalui CAT itu almarhumah dinyatakan lolos.
“Jadi sebelum lari test samapta itu juga di cek kesehatan lagi, sebelum kesitu pakai alat detak jantung dan segala macam, bagaimana keluhannya tidak ada, dan larilah beserta peserta yang lain setelah 12 menit yang bersangkutan pingsan,” bebernya.
“Sepertinya keluhan tidak di sampaikan ke panitia, mungkin ada keinginan untuk terus ikut, mungkin kelelahan atau bagaimana, pingsan kemudian kejang kejang terus ditangani medis kita selalu didampingi dalam tahapan tahapan itu, terus ke rumah sakit dan innalilahi wainnalillahi kita turut duka cita,” kata Tri.
Lanjut Tri, kejadian ataupun peristiwa ini merupakan baru pengalaman pertama di Kabupaten Sukabumi, untuk itu Ia menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya KNS.
“Mohon untuk teman teman bisa memahami kondisinya dan sekaramg orang tua di rumah sakit Palabuhanratu, Insya Allah saya dengan pak camat menunggu di rumah duka,” tandasnya. (ndi/d).






