SUKABUMI — 12 hektar lahan pertanian di wilayah Desa Jampangtengah, Kecamatan Jampangtengah, terancam kekeringan. Ini terjadi karena musim kemaruan yang berkepanjangan.
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Jampangtengah, Dadi Supardi kepada Radar Sukabumi mengatakan, berdasarkan laporan dari warga setempat, sedikitnya 12 hektare lahan pertanian, khususnya tanaman padi di wilayah Kampung Naringgul, RT (001/008), Desa Jampangtengah, Kecamatan Jampangtengah, terancam gagal panen.
“Sudah lebih dari satu bulan tidak turun hujan di wilayah tersebut yang mengakibatkan berkurangnya debit air Sungai Cidahu di Kampung Naringgul, RT 001/RW 008, Desa Jampangtengah. Sehingga lahan sawah seluas kurang lebih 12 hektare terancam kekeringan,” kata Dadi kepada Radar Sukabumi pada Jumat (28/07).
Dari lahan 12 hektare ini, sambung Dadi, sebagian lahan pesawahan warga di wilayah tersebut sudah banyak yang mengalami kekeringan. “Ini karena air dari sungai untuk mengairi lahan pertanian warga, semakin menyurut seiring memasuki musim kemarau yang berkepanjangan,” bebernya.

Pihaknya mengaku sudah melakukan komunikasi dengan para petani terkait persoalan tersebut. Bahkan, dirinya setelah mengetahui hal itu langsung bergegas meninjau ke lokasi Sungai Cidahu yang berfungsi untuk mengairi lahan pertanian warga sekitar. “Untuk jumlah kerugian, ditaksir mencapai Rp40 juta. Kondisi ini, pun sudah kami laporkan kepada pimpinan,” paparnya.
Ia menambahkan, setelah meninjau ke lokasi sungai, ia langsung koordinasi dengan Forkopimcam Jampangtengah, koordinasi dengan Pemerintah Desa Jampangtengah dan memberikan himbauan untuk tetap waspada kepada warga sekitar dalam mengahadapi musim kemarau tahun ini yang bisa berdampak pada krisis air bersih dan potensi terjadi kebakaran lahan dan hutan.
Sementara, untuk kebutuhan dalam mengantisipasi kekeringan ini, yakni 25 batang piva paralon 6 inchi untuk memindahkan aliran irigasi dari tempat semula ke arah hulu sungai, karena debit air di hulu sungai masih relatif lebih besar dibanding di hilir sungai.
“Untuk kondisi terakhir, saat ini belum ada penanganan dari pihak manapun, setelah mendapat bantuan piva paralon warga bersedia mengerjakan pemasangan piva paralon secara gotong royong,” pungkasnya. (den/d)






