“Hilal sudah lebih dari 6 derajat dengan elongasi sekitar 8 derajat. Kondisi ini sangat memungkinkan terlihat dengan mata telanjang, sehingga peluang Lebaran serentak sangat besar,” ungkap Rhorom.
Perbedaan penetapan Idul Fitri kerap menimbulkan dinamika sosial di masyarakat. Namun jika tahun ini serentak, maka akan memudahkan koordinasi nasional, termasuk jadwal salat Id, libur bersama, dan tradisi mudik.
Tokoh masyarakat Sukabumi, H. Dedi Mulyadi, menyambut baik kemungkinan Lebaran serentak.
“Kalau serentak, masyarakat lebih tenang. Tidak ada kebingungan soal jadwal salat Id atau mudik. Semoga tahun ini kita bisa merayakan Idul Fitri bersama-sama,” ujarnya.
Dengan keputusan Muhammadiyah yang sudah menetapkan 1 Syawal pada Jumat, 20 Maret 2026, serta prediksi kuat dari astronomi bahwa hilal akan terlihat, besar kemungkinan NU dan pemerintah juga akan menetapkan hari yang sama. Umat Islam di Indonesia pun berpeluang merayakan Idul Fitri 1447 H secara serentak.(hnd)






