Menurutnya, pembelajaran tatap muka di sekolah bisa dilakukan asalkan sudah memenuhi syarat standar protokol kesehatan yang diterapkan organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO).
Seperti menyedian tempat cuci tangan dengan jumlah yang sesuai dengan rombongan belajar setiap kelas, melakukan kerjasama dengan puskesmas terdekat yang akan memantau kesehatan para siswa, menggunakan masker, memiliki ruangan kelas standar untuk physical distancing atau jaga jarak.
Ditambahkan Udung, berdasarkan hasil survei dilapangan yang dilakukan tim PGRI Kota Sukabumi, sekolah SMP dan SMA yang sudah memenuhi syarat standar protokol kesehatan baru 60 persen.
Sementara sekolah lainnya, belum memenuhi syarat standar protokol kesehatan. “Jumlah 60 persen itu jumlah sekolah SMP dan SMA se-Kota Sukabumi yah, baik negeri maupun swasta.
Tetapi untuk sekolah negeri baik SMP dan SMA/SMK, itu sudah siap 100 persen. Sekolah swasta juga sudah ada yang siap 100 persen tetapi tidak semua,” tuturnya.
Dalam waktu dekat, PGRI pun akan melakukan monitoring kesekolah SD,SMP dan SMA/SMK untuk melihat kesiapan setiap sekolah menghadapi pembelajaran tatap muka tersebut.
Hasil dari survei ini, nantinya akan dilaporkan ke pemerintah Kota Sukabumi atau dibantu oleh PGRI Kota Sukabumi.
Dikatakannya, saat ini sekolah yang belum memenuhi syarat protokol kesehatan terkendala tidak memiliki wastafel untuk mencuci tangan.
“Memang yang kita lihat masih banyak sekolah tidak memiliki tempat cuci tangan. Tetapi itu masih bisa dilakukan dengan cepat apalagi sekarang ada yang namanya wastafel portable. Itu bisa dibuat dengan mudah dan cepat, untuk syarat lainnya saya rasa itu sudah bisa terpenuhi,” tuturnya. (wdy/nur)






