Ternyata, dalam satu kali turun, para penggali ini tak selamanya mendapatkan hasil yang dicari. Butuh waktu beberapa minggu untuk mendapatkan emas yang dicari. “Dalam sehari, penggali membawa tujuh karung batu bongkahan. Tapi, itu hanya mentahan saja. Paling emas yang dihasilannya hanya sedikit bahkan bisa saja nihil sama sekali,” uarinya.
Setelah mendapatkan bongkahan batu, mereka mengangkutnya ke rumah warga untuk di proses. Sepintas, rumah yang dijadikan tempat proses pengolahan hasil tambang ini tak seperti ada aktivitas pengolahan. Hal itu guna mengelabuhi dari petugas baik dari unsur pemerintah, maupin pihak berwajib.
“Selain tim penambang, tidak akan mengetahui kalau di belakang rumah saya ada aktivitas pengolahan emas. Karena, kita tidak ingin aktivitas kami terendus oleh pemeintah dan pihak berwajib,” akunya.
Ia mengakui, sebenarnya pemerintah memang sering melakukan sosialisasi baik di kantor desa maupun kecamatan terkait bahaya melakukan tambang illegal termasuk penggunakan bahan kimia jenis merkuri. Tapi kembali lagi, dengan dalih tidak memiliki mata pencaharian lain, sehingga sosialisasi itu dianggap angin lalu.
“Kalau kita tidak menambang, mau dikasih makan apa istri dan anak kita. Meskipun, apa yang kami lakukan taruhannya nyawa sekalipun,” tegasnya.(den/e)





