Ia pun menjelaskan, dalam melakukan penambangan, itu dibagi menjadi beberapa kelompok. Dimana, satu kelompok yang terdiri dari lima orang sampai delapan orang, bertugas untuk menggali khusus di satu lobang. Mereka, memulai aktivitasnya dari Pukul 06.00 WIB sampai Pukul 17.00 WIB. Dalam satu kelompok, setiap orang memiliki perannya masing-masing.
Dari mulai yang tugasnya menggali hingga mencapai kedalaman 30-40 meter hingga orang yang menjaga lubang untuk mengerek tanah hasil galian. Dengan peralatan seadanya, mereka nekat mempertaruhkan nyawanya demi harapan bisa membawa bongkahan batu yang didalamnya terdapat kandungan emas.
“Justru mas, kalau ada orang yang tertimbun, para penggali semakin bersemangat. Karena, menurut mitos, kalau ada peristiwa gurandil yang tertibun hingga meninggal, berarti kadungan emas didalamnya banyak sekali. Makanya tak heran, keesokan harinya pasti langsung di gali kembali oleh mereka,” lanjutnya.
Memang saat memasuki lubang galian, hidup dan mati sudah tak dipikirkan lagi. Mereka hanya fokus bagimana bisa menggali sampai menemukan bongkahan batu yang mengadung emas.
“Ukuran lubang ini hanya berdiameter 8-10 meter. Jadi, hanya cukup untuk satu orang. Itupun tidak leluasa. Makanya kalau ada kejadian, itu sangat sulit untuk menyelamatkan diri termasuk ketika natinya proses evakuasi,” timpal pria yang perawakannya tinggi ini.
Tim pun mencoba memasuki galian untuk mengetahui proses selama didalam lubang. Barus lima meter memasuki galian, dada sudah terasa sesak karena kurangnya oksigen.
Terlebih lagi, sempitnya ukuran membuat suhu terasa panas. Untuk bisa melihat, para penambang ini hanya menggunakan senter kecil yang terpasang di kepala. Setelah beberapa jam didalam lubang, tim pun memtutuskan kembali karena konsisi sudah tak memungkinkan.





