“Hampir setiap hujan lebat, air dan lumpur pasti akan menghadang rumah warga. Beruntung saat banjir warga langsung memberishkannya. Sehingga, air yang masuk rumah warga hanya dengan ketinggian sekitar 10 sampai 20 centimeter. Sementara, kalau diluar rumah, air itu meluap hingga 40 sampai 50 centimeter.
Kami sebagai perwakilan dari masyarakat sudah berulang kali mengajukan permohanan agar peristiwa itu tidak terulang kembali. Tapi, tidak tahu kenapa hingga saat ini, belum mendapatkan respon yang jelas,” keluh Apun.
Warga menuduh, PT SCG sebagai penyebab terjadinya banjir tersebut.
Sebab, lokasi pemukiman warga tepat berada dibawah bangunan perushaan yang tempatnya berjarak sekitar 10 meter. “Sebelum ada perusahaan ini, pemukiman kami tidak pernah diterjang banjir. Air itu meluap dari saluran pembuangan air PT SCG dan langsung masuk ke pemukiman yang letaknya hanya beberapa meter saja,” imbuhnya.
Apabila pihak perusahaan tidak memenuhi tuntutan warga, mereka mengaku tak akan segan-segan untuk melakukan aksi demo besar-besaran kepada PT SCG.
“Sudah sewajarnya kami menuntut pihak perusahaan. Sebab, sampai dengan saat ini belum ada kepastian dari mereka untuk mengganti rugi. Memang waktu peristiwa banjir, saya langsung laporan kepada PT SCG.
Selang beberapa menit, sedikitnya 10 karyawan yang merupakan perwakilan dari perusahaan menyambangi pemukiman penduduk. Mereka selain meninjau, juga telah menyatakan akan mengganti rugi semua kerusakan akibat bencana tersebut. Mudah-mudahan janji mereka bisa dipegang dan tidak berbohong,” pinta Apun.
Sementara itu, Mimin (17) yang merupakan korban dari bencana banjir itu menjelaskan, saat kejadian ia tengah berada didalam rumah beserta ibu dan anaknya yang masih berumur empat bulan. “Sebelumnya, saya tidak tahu peristiwa ini.
Namun tetangga saya berteriak menyuruh keluar rumah karena air dan lumpur tengah menghadang rumah saya. Setelah itu, saya liat rumah memang sudah tergeng air dengan ketinggian sekitar 10 centimeter,” ucapnya.
Karena dikhawatirkan air semakin meluap dirumahnya yang terbuat dari anyaman bambu itu, ia langsung bergegas keluar rumah dengan menggendong bayi berserta ibunya. “Saat saya keluar, ternyata dapur juga sudah terendam. Bahkan, sejumlah peralatan memasak telah berantakan akibat diterjang banjir dan lumpur,” beber Mimin.
Setelah hujan reda, puluhan warga langsung berjibaku untuk memberisihkan lumpur dan air yang menerang pemukiman penduduk. “Alhamdulillah sekarang sudah pada bersih. Tapi, kalau tadi siang kondisinya sangat memprihatinkan.
Saya berharap pihak perusahaan dapat memikirkan nasib warga yang terdampak, karena bagaiman pun juga, peristiwa ini akibat dari saluran air PT SCG meluap hingga menjebol pagar panel. Seharusnya perushaan besar itu, membuat pembuangan air. Tidak seperti sekarang, hampir setiap hujan lebat pasti pemukiman warga dilanda bencana,” pungkasnya. (cr13.e)





