Dedi enggan merespon informasi tersebut. Menurutnya, yang pasti ada puluhan bom yang ada di rumah tersebut. ”empat bom aktif dibawa istri AH itu,” jelasnya ditemui di kantor Divhumas Polri kemarin.
Proses negosiasi itu mentok. Saat dini hari pukul 01.20 terdengar sebuah ledakan dari arah rumah tersebut. Petugas belum bisa mendekat, karena menduga ada ledakan susulan. ”Ternyata benar, beberapa menit kemudian ledakan kedua terjadi,” ujar Dedi.
Dia menuturkan, petugas baru bisa mendekati dan melakukan evakuasi sekitar pukul 05.00. ditemukan dua jenazah, seorang perempuan usia sektar 30 tahunan dan anak kecil usia sekitar dua tahun. ”Kondisi jenasah hancur,” ujarnya.
Perlu diketahui bahwa ada perbedaan jumlah anggota keluarga yang masih dipastikan. Menurutnya, pengakuan dari Abu Hamzah itu anaknya tiga. Tapi, dari tetangga menyebut di dalam rumah ada dua anak. ”Tapi, dari olah TKP, hanya satu anak yang ditemukan. Ini masih dipastikan,” tuturnya.
Menurutnya, dampak ledakan bom cukup besar hingga puluhan rumah di sekitar lokasi rusak berat. Setidaknya 20 kepala keluarga terdampak. ”Bukan karena high explosive, melainkan bomnya banyak,” ujarnya.
Hingga pukul 15.00, sesuai laporan petugas di lapangan diketahui proses sterilisasi bom belum selesai. Telah ditemukan setidaknya empat bom yang berhasil dimusnahkan. ”Tapi, masih ada kemungkinan bom lain,” paparnya.
Dia menjelaskan, saat ini kasus tersebut masih dikembangkan. Bom yang jumlahnya puluhan itu tidak mungkin dirakit sendirian oleh Abu Hamzah. ”Walau Abu Hamzah memiliki kemampuan itu, tapi tidak bisa sendiri,” terangnya.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengapresiasi kerja Densus 88 Polri yang kembali membuka dan menangkap jaringan terorisme di Indonesia. Dia menyebut, upaya seperti itu sangat diperlukan guna mewujudkan keamanan dan stabilitas negara. “Karena sangat berbahaya bagi negara ini, keamanan negara kita, kalau ada teroris-teroris yang menyimpan bom seperti itu,” ujarnya di JIExpo, Jakarta, kemarin (13/3).
Jokowi berharap, Densus 88 bisa terus mengembangkan upayanya. Sehingga sel-sel yang masih tersisa bisa diungkap dan ditangkap. “Sudah disampaikan harus ada sebuah tindakan yang tegas terus menerus tanpa henti, dan kita harapkan segera semua bisa terungkap,” imbuhnya.
Terkait perlu tidaknya peningkatan keamanan jelang pemilihan presiden (Pilpres), mantan gubernur DKI Jakarta itu menilai belum perlu. Sebab, berdasarkan informasi yang dia terima, terorisme di Sibolga tidak terkait dengan Pilpres.”Ini sebenarnya dimulai dari pengungkapan teroris yang ada di Lampung, jadi tidak ada kaitannya dengan pilpres,” tandasnya.
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto menambahkan, terorisme di Sibolga tidak berkaitan dengan Pemilu. Dia menegaskan, aksi terorisme bisa terjadi kapan saja. “Terorisme itu kan bergerak tak kala kita lengah, terorisme itu bergerak tak kala aparat keamaan kita tidak memonitor mereka,” ujarnya.
Oleh karenanya, dia meminta masyarakat tenang dalam menghadapi pemilu bulan depan. Menurutnya, seluruh elemen sudah melakukan pengamatan dan menyusun indeks kerawanan sejak jauh hari. “Jangan diributkan seakan-akan bagian dari menganggu pemilu. Katanya pemilu enggak aman, enggak. Pemilu tetap kita jamin keamanannya,” pungkasnya. (idr/far)






