BERITA UTAMA

Benang Merah Kematian Remaja Jampangkulon: Babak Baru Laporan Polisi

×

Benang Merah Kematian Remaja Jampangkulon: Babak Baru Laporan Polisi

Sebarkan artikel ini
Kasus meninggalnya NS (13), remaja asal Jampangkulon, memasuki babak baru. Ibu kandung korban, didampingi kuasa hukum, resmi melaporkan ayah kandung atas dugaan pembiaran dan penelantaran anak.

SUKABUMI Kasus meninggalnya NS (13), remaja asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, terus bergulir. Suasana haru menyelimuti Polres Sukabumi ketika ibu kandung korban, Lisnawati, didampingi kuasa hukumnya, Krisna Murti dan tim, resmi melaporkan ayah kandung NS berinisial AS atas dugaan kelalaian dan penelantaran anak.

Bank bjb Tandamata

Laporan dengan nomor STPL/B/106/II/2026/SPKT/Polres Sukabumi/Polda Jawa Barat itu menjadi babak baru dalam kasus yang telah menyita perhatian publik. “Klien kami melapor sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam kondisi tidak wajar. Patut diduga adanya kelalaian dan pembiaran,” ujar Krisna Murti.

Dugaan kelalaian diperkuat oleh bukti percakapan singkat antara AS dan Lisnawati dua hari sebelum NS meninggal. Dalam pesan itu, AS menyebut anaknya sakit parah, namun ketika disarankan dibawa ke rumah sakit, ia justru merespons dengan kalimat yang dinilai mengabaikan keselamatan anak.

Kuasa hukum juga menyoroti kondisi fisik NS selama berada di bawah pengasuhan ayahnya, termasuk adanya luka lebam dan dugaan luka bakar. Atas dasar itu, laporan mengacu pada Pasal 76B juncto Pasal 77B UU Perlindungan Anak terkait pembiaran dan penelantaran.

Tak berhenti di sana, laporan lain juga dilayangkan terhadap ibu tiri korban atas dugaan pembunuhan berencana. “Ada dugaan seperti itu, sebagaimana disampaikan ahli psikologi forensik Reza Indragiri,” jelas Krisna.

Lisnawati sendiri mengaku terakhir bertemu anaknya empat tahun lalu. Sejak itu, komunikasi terputus karena dibatasi oleh ayahnya. “Saya sudah empat tahun tidak bertemu anak saya. Terakhir komunikasi juga empat tahun lalu,” tuturnya dengan suara bergetar. Ia menambahkan, selama hidup bersama AS, dirinya kerap mengalami kekerasan fisik dan psikis, bahkan saat mengandung.