Anies Baswedan Kunjungi Sukabumi,  Jadi Curhatan Petani

Anies Baswedan Kunjungi Sukabumi
Anies Baswedan yang merupakan bakal calon Presiden Republik Indonesia di Mahoni Liesure, Desa Selawangi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi pada Rabu (20/09).

SUKABUMI – Kunjungan bakal calon Presiden Republik Indonesia, Anies Baswedan ke Sukabumi, tepatnya di Mahoni Liesure, Desa Selawangi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, menjadi tempat curhatan masyarakat Sukabumi, khususnya para petani.

Berdasarkan pantauan Radar Sukabumi di lokasi, para petani telah mencurahkan isi hatinya, kepada Anies Baswedan didampingi Anggota DPR RI Komisi 4, Slamet dan pimpinan partai kaalisi. Diantaranya, Ketua DPD Nasdem, PKS dan Ketua DPD PKB Kabupaten Sukabumi, mulai dari persoalan kelangkaan pupuk, ketidak stabilan harga beras dan gabah hingga persoalan bank emok.

Bacaan Lainnya

“Jadi tadi kami berdialog dengan petani baik petani perempuan maupun laki-laki yang semuanya tergabung dalam kelompok tani. Iya, mereka menceritakan hal-hal yang menjadi masalah utama keseharian yang dihadapi,” kata Anies kepada Radar Sukabumi pada Rabu (20/09).

Saat menyerap aspirasi, Anies mendengarkan keluh kesah petani Sukabumi, mulai dari persoalan ketersediaan pupuk, keterjangkauan harga dan juga akses jalan, modal untuk kegiatan pertanian dan pengolahan hasil yang membutuhkna akses pada permodalan.

“Nah, disampaikan juga mengenai stabilitas harga, yang sering harganya naik turun sehingga tidak ada stabil,” bebernya.

Bukan hanya itu, mereka juga mengeluhkan tentang pelaku-pelaku usaha besar yang masuk ke sektor pertanian. Sehingga petani-petani kecil terkalahkan karena mereka tidak bisa memproduksi skala besar yang membuat harga jauh lebih kecil.

“Jadi permasalah itu yang disampaikan, tujuan kami kesini untuk berdialog langsung dan mendengar langsung harapan dan solusi praktis yang mereka usulkan. Kita tahu bahwa kebutuhan atas tata niaga pangan yang lebih baik itu sudah urgen,” bebernya.

Dia pun mengakui, bahwa masyarakat rumah tangga menginginkan agar pasokan itu aman dan harganya stabil. Namun, disisi lain semua yang bergerak di sektor ini, baik petani peternak, nelayan mereka membutuhkan dukungan agar alat produksinya dan bahan-bahan produksi tersedia dengan harga terjangkau dan stabil.

“Supaya harga jual produk mereka stabil. Tata niaga ini harus kita bereskan, dan itu jadi prioritas dan sering saya sampaikan. Mayoritas kita penangan soal pangan supaya terjangkau. Nah, kedua kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja,” timpalnya.

Fakta yang sering terjadi saat ini, harga pangan meningkat tinggi, sehingga keluarga harus membayar dengan sangat mahal. Untuk itu, ia menilai kegiatan pertanian itu, harus menajdi perhatian agar menjadi swasembada.

Sebab itu, ia sebagai masyarakat kota sangat mengucapkan banyak terima kasih karena dengan adanya kerja keras petani di Sukabumi, bisa memenuhi kebutuhan pangan.

“Jadi saya melihat ini, akan menjadi perhatian dan semua aspirasi warga akan kami catat yah. Dan doakan kami yah,” timpalnya.

Salah seorang petani dari Gapoktan Desa Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Ujang Jaenal Mutakin mengatakan, bahwa ia sebagai petani merasa dilema karena harga gabah sangat tidak baik. Seperti harga gabah saat ini Rp6 ribu dari tempat penggilingan padi. “Tapi kenaikan itu tidak berdasarkan HET.

Tentunya, ini sangat berdampak buruk terhadap penggilingan padi. Terlebih lagi, lahan pertanian di Kabupaten Sukabumi saat ini sudah sangat minim, akibat masifnya pembangunan. Iya, jadi ada bursa besar,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *