Oleh: Fawzy Ahmad
Saya memang masih terkagum-kagum pada AKBP Sumarni. Dia Kapolres Sukabumi Kota yang baru. Baru dilantik pada tanggal 27 Mei 2020 lalu.
Dilantik di tengah pandemi corona. Sehingga tidak ada kemewahan, sangat sederhana dan biasa-biasa saja. Kapolres baru dengan tradisi yang baru. Alias new normal.
“Saya dilantik di tengah pandemi corona. Jadi saya kapolres edisi corona,” kata Sumarni bercanda saat menerima saya di ruang kerjanya, di Mako Polres Sukabumi Kota beberapa hari lalu.
Sekadar catatan, pergantian pimpinan di tingkat satuan wilayah itu hal yang biasa. Penyegaran, salah satu dalihnya. Dan Sumarni memang benar-benar memberikan kesegaran itu.
Satu hal yang paling mencolok, dia adalah polwan pertama yang menjabat kapolres di Sukabumi. Maka wajar jika publik memiliki ekspektasi tertentu, ekspektasi yang tinggi. Ya itu tadi, penyegaran. Kalau sebelum-sebelumnya diawaki oleh laki-laki, namun kali ini sentuhan khas ala wanita. Pasti beda. Dan memang benar-benar beda.
Setidaknya sejak awal wanita berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi itu menjadi pimpinan di Polres Sukabumi Kota, seabrek kegiatan telah dia jabani. Sebut saja langsung ikut memberikan komando atas penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru yang disingkat AKB alias new normal.
Selain itu, Sumarni pun sangat rajin melakukan silaturahmi ke beberapa tempat. Setiap hari dan nyaris tidak ada jeda. Sebenarnya ini biasa-biasa saja, tapi lagi-lagi karena dia adalah polwan pertama yang jadi kapolres, maka ini jadi luar biasa. Mungkin hal ini dilakukannya sebagai bentuk adaptasi di kedinasan yang baru.
Termasuk adaptasi dengan kultur. Sumarni kebetulan satu kampung dengan saya. Kami sama-sama orang Melayu Kalimantan. Bedanya dia tumbuh dan besar di Kalimantan Barat, sedangkan saya di Kalimantan Utara. Tapi sama-sama rumpun Melayu. Sehingga saat saya berbincang-bincang dengan Sumarni, kami bercakap dengan bahasa dan langgam khas Melayu Kalimantan.
Seperti ulun, ikam, atau pian. Itu bahasa Banjarmasin. Ada juga istilah yang sama tapi beda penulisan dan penyebutan. Kepuhunan dan kemponan. Istilah ini hanya diketahui oleh orang Melayu Kalimantan saja. Abah Dahlan Iskan, mahaguru Jawa Pos Group juga tahu istilah ini.
Kurang lebih artinya adalah jika kita tidak mencicipi makanan yang ditawarkan, maka sama saja kita menolak rezeki. Maka jika tidak ingin kepuhunan atau kemponan, kita wajib mencicipi makanan tersebut. Kalau di Sunda apa ya?
Ya, Sumarni yang sebelumnya banyak berkegiatan di wilayah Jakarta, juga harus membiasakan diri dengan kultur Sunda. Sebut saja seperti kebiasaan ngebotram. Konon kebiasaan ini yang paling dia sukai jika ada kesempatan bersilaturahmi ke titik-titik tertentu. Selain karena makanan, juga bisa mengakrabkan diri dengan warga masyarakat.
“Polri itu untuk masyarakat. Butuh masyarakat. Kalau tidak ada masyarakat, apalah artinya kami ini. Maka kita harus bersama-sama dan bersinergi membangun Kota Sukabumi khususnya agar bisa lebih baik,” kata Sumarni.
Tapi bagi dia, Sunda bukanlah hal yang asing. Sebab ayah Sumarni adalah orang Indramayu, Jawa Barat. Suaminya pun, Kombes Pol Asep Guntur Rahayu adalah orang Majalengka.
Nah, apa saja rencana dan program kerja Sumarni? Tak muluk-muluk sih. Seingat saya dia punya program; Polisi RW, Rumah Kreatif Milenial, Patorli 24 Jam, Zona Ketahanan Pangan, hingga pemberdayaan kelompok perempuan. Yang lebih strategis dan teknis ada juga, tentunya latar belakang Sumarni yang beberapa tahun mengurusi perkara korupsi.
Ya, dia pernah menjadi penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK dan Kanit Subdit III Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipidkor) Bareskrim Polri. Keren kan?
Dan pasti tidak ada yang menyangka soal sisi lain dari seorang Sumarni yang perawakannya ceria dan berhijab. Apalagi seorang emak-emak.
Apakahh korupsi akan menjadi fokus utama Sumarni?
“Kami diberikan amanah dari pimpinan untuk dapat menciptakan kreasi-kreasi dan melakukan pengabdian pada kedinasan untuk memberikan sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk wilayah hukum kami, dalam hal ini Sukabumi Kota,” demikian jawaban Sumarni.
Menarik memang menantikan dan menyaksikan sepak terjang Sumarni sebagai orang nomor satu di Korps Bhayangkaran resor Sukabumi Kota.
Yang pasti, dia selalu ingin hadir di setiap kegiatan masyarakat Kota Sukabumi. Apapun itu. Entah sekadar ngaliwet atau ngopi-ngopi santai. Mungkin ini salah satu cara agar dia dapat beradaptasi dengan jabatannya, dengan warga Kota Sukabumi dan dengan pandemi corona.
“Saya kemana-mana harus pakai masker, luntur deh lipstik saya,” seloroh Sumarni.
Dalam hati saya bergumam. “Haduh, kapolres satu ini bener-bener dah, hahaha”
Dan sedikit tambahan, saya diizinkan memanggilnya dengan sebutan Kak Ngah. Alias kakak tengah. Padahal saya mau memanggilnya dengan panggilan acil atau julak. Tap tak apa lah. Kak Ngah saja. (izo/rs)
* Keterangan foto: Foto candid wawancara eksklusif penulis dengan AKBP Sumarni





