1.790 Balita Terkena Pneumonia

SUKABUMI — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi menyebut 1.790 balita di Kabupaten Sukabumi terkena pneumonia. Data ini tercatat sejak Januari hingga Mei 2019.

Jumlah kasus itu terdiri dari 328 kasus pada Januari, 330 kasus pada Februari, 338 kasus pada Maret, 323 kasus pada April dan 471 kasus pada Mei. Angka tersebut, jika dibandingkan pada Januari sampai Mei 2018 lalu mengalami penurunan yaitu terdapat sebanyak 1.874 kasus.

Bacaan Lainnya

“Pada tahun ini balita yang terkena pneumonia mengalami penurunan. Terbukti dari data yang ada pada tahun ini hanya 1.790 kasus, sedangkan pada 2018 terdapat 1.874 kasus,” kata Pengelola Program Penanganan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi, Toto Joko Marsanto kepada Radar Sukabumi, kemarin (8/7).

Ia menerangkan, pneumonia merupakan bagian dari penyakit ISPA terutama yang memengaruhi paru-paru. Kasus pneumonia di Kabupaten Sukabumi jumlahnya dinilai tidak tinggi dan masih di bawah target penemuan kasus oleh WHO.

Di mana dari target 100 persen sebanyak 5.851 balita yang sudah ditemukan. “Masyarakat idealnya mengetahui gejala awal pneumonia. Misalnya, ketika anak mengalami batuk dan flu yang disertai demam, maka disarankan untuk melakukan deteksi dini dengan cara hitung nafas. Untuk balita berusia kurang dari dua bulan batas nafas cepat adalah lebih dari 60 kali permenit,” tandasnya.

Bila nafasnya mencapai batas, sambung dia, maka nafasnya sudah termasuk nafas cepat dan segera dibawa ke petugas kesehatan. Untuk balita berumur dua hingga 12 bulan adalah lebih dari 50 kali permenit. Sedangkan balita umur 12 hingga 59 bulan batasan nafasnya adalah lebih dari 40 kali permenit.

“Sedangkan, untuk mencegah penyebaran pneumonia atau ISPA, salah satunya dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Misalnya menjaga kesehatan dengan makan yang bergizi, cuci tangan dengan sabun dan tidak merokok,” imbuhnya.

Ia berharap, dengan berbagai upaya yang dilakukan Dinkes Kabupaten Sukabumi dapat menekan angka kasus pneumonia. “Kami berupaya mensosialisasikan agar masyarakat dapat menjaga PHBS untuk mengantisipasi penyakit tersebut. Mudah-mudahan ke depan bisa semakin menurun lagi,” pungkasnya.

Gejala Penderita Pneumonia

– Demam di atas 39 derajat Celsius.
– Berkeringat dan menggigil.
– Batuk kering atau batuk dengan dahak kental berwarna kuning, hijau, atau disertai darah.
– Sesak napas.
– Nyeri dada ketika menarik napas atau batuk
– Mual atau muntah
– Diare
– Selera makan menurun
– Lemas
– Detak jantung menjadi cepat
-Bagian dada anak cekung ke dalam, tidak tegap. Jika berlangsung lama, berat badan anak biasanya akan menyusut secara drastis.

Pecegahan Penyakit Pneumonia

– Menjalani vaksinasi.
– Mempertahankan sistem kekebalan tubuh.
– Menjaga kebersihan.
– Dilarang merokok di sekitar anak. Asap rokok memang bukan penyebab pneumonia. Namun, asap ini bisa melemahkan sistem pernapasan.
Hindari paparan debu atau asap kendaraan dalam waktu lama. Sebab, pneumonia tidak hanya disebabkan bakteri atau virus.
– Cegah kontak langsung dengan si kecil jika sedang sakit, termasuk pilek atau batuk. Jika terpaksa, gunakan masker dan pastikan mencuci tangan sebelum/sesudah bermain dengan bayi.
– Jika anak mengalami batuk pilek, jangan langsung memberikan antibiotik. Beri obat batuk sesuai takaran. Jika belum membaik 2–3 hari, kunjungi dokter.
Ketika mendapat resep antibiotik, pastikan obat itu habis meski kondisi anak sudah membaik. Tujuannya, bakteri atau virus yang jadi sasaran antibiotik benar-benar mati, bukan sekadar melemah.

Tentang Imunisasi Pneumonia:

Disarankan pada usia 2 bulan sampai di bawah 8 tahun serta pada lansia (di atas 55 tahun). Pada usia anak-anak hingga dewasa, kekebalan tubuh umumnya sudah baik. Imunisasi diberikan 4 kali. Namun, jika dilakukan di atas 1 tahun, cukup dua kali. Pengulangan itu berfungsi memperkuat imun tubuh.
Imunisasi PCV bisa mencegah pneumonia yang dipicu Streptococcus pneumonia, tapi tidak mencegah anak dari pneumonia yang dipicu bakteri lain, fungi (jamur), atau penyebab lainnya.

(bam/d)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.