SUKABUMI – Daerah Sukabumi saat ini kian dicari para pengembang properti, seiring adanya mega proyek infrastruktur tol yang menghubungkan antara Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi).Pembanginan infrastruktur tersebut, akan mampu memberikan peluang bagi Familia Urban. Apalagi sekarang, masyarakat sangat selektif dalam memilih hunian.
“Hunian yang berkualitas terutama dari sisi material bangunan yang digunakan, menjadi daya tawar untuk menarik minat konsumen dan itu yang menjadi pilihan mereka saat ini,”ungkap pemilik usaha bata merah, Encey saat ditemui Radar Sukabumi di tempat kerjanya.
Meski dewasa ini sudah ditemukan inovasi bahan pengganti bata merah dalam membuat dinding bangunan, tetapi mayoritas masyarakat masih menggunakan bata merah untuk membangun rumah.
Encey yang juga warga Cicantayan, Kabupaten Sukabumi ini sejak 2010 lalu mencoba mengembangkan usaha pembuatan bata merah Dahulu di Cicantayan sendiri terutama di Desa Sukadamai, banyak warga menjadi pengrajin bata merah. Saking banyaknya, Encey membuka usaha di Jalan KH Damanhuri Kampung Ciawi RT 45/06 Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten sukabumi.
“Usaha ini sekarang sangat menjanjikan, bukan berkurang tapi malah meningkat pesat,”tuturnya.Meski sempat bersaing dengan hebel atau bata putih, namun usahanya kembali normal. Di sini, bata merah buatannya masih dijemur secara alami dengan mengandalkan terik matahari. “Kami masih tahap pengrajin, bukan CV atau PT dan pabrik besar,”tuturnya.
Kenapa begitu? Karena Encey belum bisa membeli mesin oven yang harganya sangat mahal dan harus memliki izin dari Dinas Perindustrian. “Jadi, untuk tahap penjemuran masih alami dengan sinar matahari,”ulasnya.Dalam proses pembuatan bata merah, dirinya dibantu tiga sampai empat pegawai.
“Alhamdulillah usaha ini sangat menjanjikan, kemarin sempat turun karena konsumen kurang dan bersaing dengan hebel, setelah itu mereka kembali lagi ke bata merah,”tuturnya.Untuk mendapatkan bata merah berkualitas, Encey membuat adonan dari tanah liat dan dimasukkan ke dalam mesin molen.
“Untuk satu kali potong dua biji bata merah, setelah itu tahapan penjemuran,”ulasnya.Penjemuran bata merah jumbo menghabiskan waktu satu minggu, jika cuaca sedang bagus. Sedangkan untuk musim hujan, bisa dua sampai tiga minggu baru kering.
“Proses pembakaran dilakukan selama 24 jam, untuk sekali pembakaran,”paparnya.Kapasitas produksi di tempat ini mencapai 4 ribu-5 ribu bata merah per hari, tergantung banyaknya pekerja. Per satu pekerja, ditarget untuk memproduksi minimal 1000 bata merah. Bata merah buatan Encey dijual Rp630/pcs (Harga pabrik,red) dan dikenakan biaya ongkir tergantung jauh dekatnya lokasi.
“Daerah Sukabumi per unit Rp 100 ribu delivery ordernya 4000 bata jumbo,”katanya.Ia tidak memproduksi bata standar. “Mending bikin bata merah jumbo, lebih irit materialnya,”terangnya.Di 2 Oktober 2018, pihaknya melakukan proses pembakaran sebanyak 25 ribu pcs bata merah jumbo pesanan konsumen.Encey kerap kebanjiran order, bahkan pernah tidak terlayani saking banyaknya orderan.
“Iya waktu banyak yang dibatalkan, karena barangnya yang tidak tersedia dan minat konsumen yang meningkat harga pun sangat tinggi,”katanya.Untuk bahan baku, Encey membeli di lahan tambang yang ada di Cicantayan. Satu colt diesel Rp250 ribu untuk 2.500 bata merah jumbo. “Kalau tidak memeneuhi target akan jebol,”singkatnya.
Dalam satu bulan, karena banyak biaya operasional yang harus keluar, Encey hanya bisa meraup omze Rp4 juta sampai Rp6 juta, untuk pembakaran 20 ribu bata merah jumbo untuk dua kali pembakaran. Upah yang didapat para pekerjanya di atas minumum, lantaran satu pekerja ditarget 1000 bata merah. “Per unitnya itu kita hargai Rp90, jadi upah pekerja kami Rp90 ribu,”ucapnya.
Industri bata merah ini sudah dipasarkan ke daerah Jabodetabek, Banten dan Subang.”Semoga kedepan bisa mendobrak pasar Jabodetabek,untuk tahapan pemasaran kami memiliki kantor pemasaran di Depok, pemasarannya sudah sampai Bayah Lebak Banten,”pungkasnya.
(pkl1/t)



