SUKABUMI – Cara unik dilakukan SMPN 1 Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, dalam menanamkan kedisiplinan kepada peserta didiknya. Alih-alih memberikan hukuman kepada siswa yang berambut gondrong, sekolah justru menghadirkan tukang cukur profesional ke lingkungan sekolah dan menyediakan layanan potong rambut secara gratis.
Program yang dilaksanakan secara rutin itu menjadi salah satu upaya sekolah membiasakan siswa laki-laki berpenampilan rapi tanpa harus menggunakan cara-cara yang bersifat memaksa atau menghukum.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 1 Gegerbitung, Agus Mulyadi, mengatakan gagasan tersebut muncul dari pengalaman sederhana. Saat seorang siswa ditegur karena rambutnya terlalu panjang, siswa tersebut mengaku belum memiliki uang untuk mencukur rambutnya.
“Dari situ kami berpikir, kenapa tidak sekolah saja yang menghadirkan tukang cukur. Akhirnya kami berinisiatif mengundang tukang cukur ke sekolah agar siswa yang rambutnya sudah panjang bisa langsung dipotong secara gratis,” ujarnya.
Menurut Agus, biaya potong rambut seluruhnya berasal dari program Peduli Rekan, salah satu program unggulan sekolah yang dikelola dari hasil kepedulian para siswa. Melalui program tersebut, siswa secara sukarela menyisihkan sebagian uang jajannya setiap pekan tanpa nominal yang ditentukan.
Dana yang terkumpul kemudian dimanfaatkan untuk membantu berbagai kebutuhan sosial di lingkungan sekolah, seperti menjenguk siswa yang sakit, membantu siswa kurang mampu membeli perlengkapan sekolah, hingga membiayai layanan cukur rambut gratis.
“Uangnya bukan hanya untuk potong rambut, tetapi juga membantu teman-teman yang membutuhkan, membeli buku, sepatu, atau keperluan sekolah lainnya. Semua berasal dari semangat gotong royong para siswa,” jelasnya.
Pada pelaksanaan kali ini, sebanyak 17 siswa mengikuti layanan potong rambut gratis. Jumlah tersebut meningkat dibanding hari-hari biasa yang umumnya hanya melayani tiga hingga lima siswa karena kegiatan sempat terhenti selama libur sekolah.
Agus menegaskan, pendekatan sekolah dalam membangun disiplin kini harus mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, cara-cara lama seperti memotong rambut siswa secara paksa oleh guru sudah tidak lagi relevan.
“Yang kami inginkan adalah anak disiplin karena sadar, bukan karena takut. Alhamdulillah respons siswa sangat baik. Bahkan mereka antre dan berebut ingin dicukur di sekolah. Mereka akhirnya memahami bahwa sebagai pelajar harus berpenampilan rapi,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 1 Gegerbitung, Raden Herawati, menyebut program tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam penguatan pendidikan karakter.
Menurutnya, disiplin tetap harus ditegakkan, tetapi dengan pendekatan yang lebih humanis, edukatif, dan menghargai hak-hak anak.
“Kami ingin menumbuhkan karakter positif melalui cara yang berbeda. Anak-anak tidak lagi didisiplinkan dengan kekerasan, tetapi diajak memahami pentingnya kerapian dan kedisiplinan sehingga muncul kesadaran dari dalam diri mereka sendiri,” ungkapnya.
Program inovatif tersebut juga mendapat apresiasi dari Pengawas SMP Wilayah Sukaraja, Obing Hobir. Ia menilai langkah SMPN 1 Gegerbitung layak menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam membangun budaya disiplin.
“Ini ide yang sangat bagus dan patut dicontoh. Membiasakan siswa berpenampilan rapi merupakan bagian dari pendidikan karakter. Rambut pelajar harus rapi, tetapi penegakannya dilakukan dengan cara yang bijak dan menyenangkan. Saya sangat mendukung program ini,” tandasnya.(wdy)





