SUKABUMI – Musim kemarau berkepanjangan yang melanda Kabupaten Sukabumi mulai berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat, empat kecamatan kini dilanda krisis air bersih sejak awal Juli hingga pertengahan Juli 2026, yakni Kecamatan Cibadak, Cicurug, Cikembar, dan Nyalindung.
Ribuan kepala keluarga (KK) terdampak, dengan kondisi terparah di Kedusunan Bojongkaler, Kecamatan Cikembar (682 KK), Kampung Bantar Mungcang Atas, Kecamatan Cibadak (530 KK), serta Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug (304 KK). Di Kampung Babakansari, Desa Sekarwangi, warga bahkan terpaksa membuat kubangan di sungai yang surut untuk kebutuhan MCK, meski airnya keruh dan tidak layak konsumsi.
Manager Pusdalops PB BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menegaskan pihaknya terus bergerak cepat merespons laporan warga. “Fokus utama kami saat ini adalah menyalurkan bantuan air bersih sesegera mungkin ke titik-titik pemukiman yang krisis,” ujarnya, Jumat (17/7).
BPBD telah mendistribusikan puluhan ribu liter air bersih: masing-masing 5.000 liter ke Desa Cibadak, Sekarwangi, dan Kertaangsana Nyalindung; 10.000 liter ke Cicurug; serta 15.000 liter ke Cikembar. Namun, dampak kemarau juga mulai mengancam sektor pertanian dengan laporan kekeringan ekstrem di sejumlah lahan.
Sekretaris BPBD Kabupaten Sukabumi, Yuni Sriheryanti, menambahkan mayoritas warga masih bergantung pada sumur resapan yang kini mengering. “Persoalan utama adalah sistem pemenuhan air warga yang belum terintegrasi dengan jaringan perpipaan. Debit air tanah turun drastis sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar,” jelasnya.





