KABUPATEN SUKABUMI

Kasus Nizam: Fakta Medis vs Spekulasi Publik

×

Kasus Nizam: Fakta Medis vs Spekulasi Publik

Sebarkan artikel ini
Polres Sukabumi tegaskan: kebenaran harus lahir dari sains, bukan spekulasi. Autopsi, laboratorium, dan 16 saksi jadi kunci mengurai misteri kematian Nizam (13).
Polres Sukabumi tegaskan: kebenaran harus lahir dari sains, bukan spekulasi. Autopsi, laboratorium, dan 16 saksi jadi kunci mengurai misteri kematian Nizam.

SUKABUMI – Di tengah derasnya arus spekulasi di media sosial, Polres Sukabumi memilih pijakan kokoh: pembuktian ilmiah. Tragedi meninggalnya Nizam Syafei , pelajar asal Desa Cipendey, Surade, kini ditangani dengan pendekatan scientific crime investigation demi kebenaran yang objektif dan berkeadilan.

Bank bjb Tandamata

Kapolres Sukabumi AKBP Samian menegaskan, polisi tidak akan tergesa menarik kesimpulan sebelum seluruh fakta medis dan hukum terverifikasi. “Kami ingin memastikan keadilan bagi almarhum berdasarkan fakta, bukan opini. Mohon masyarakat bersabar dan tidak terpancing spekulasi,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).

Autopsi sementara menemukan luka bakar derajat 2A di wajah, leher, dan beberapa anggota tubuh, serta luka lecet akibat benturan tumpul. Namun, tidak ada tanda kekerasan pada organ vital. Sebaliknya, tim dokter mendapati penyakit kronis pada paru-paru serta perbendungan organ dalam.

Kasat Reskrim AKP Hartono menambahkan, korban juga didiagnosis sepsis yang memicu penurunan kesadaran. Untuk memastikan penyebab pasti, sampel organ telah dikirim ke Pusdokkes Polri untuk pemeriksaan Patologi Anatomi dan Toksikologi Forensik. “Kesimpulan masih sementara, menunggu hasil laboratorium definitif,” tegasnya.

Hingga Sabtu, 16 saksi telah diperiksa intensif, mulai dari keluarga, warga sekitar, hingga tenaga medis. Polisi juga menyelaraskan data dengan video pengakuan korban yang sempat viral, namun menegaskan bukti digital tetap harus diuji secara ilmiah.