SUKABUMI – Pergerakan tanah di zona aktif Sesar Cimandiri kembali mengganggu infrastruktur vital di wilayah selatan Sukabumi. Ruas Jalan Provinsi yang menghubungkan Sukabumi dengan Sagaranten ambles sepanjang 42 meter di titik KM 120–150, tepatnya di Kampung Buniayu, RT 02 dan RT 03/RW 06, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi.
Kejadian ini terjadi di tengah cuaca ekstrem yang melanda kawasan tersebut dan bertepatan dengan persiapan arus kendaraan menjelang libur Tahun Baru 2025.
Kepala Satuan Pelayanan Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Kabupaten Sukabumi 3, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat, Wisnu Sunjaya, mengungkapkan bahwa amblesan ini merupakan titik baru yang belum pernah ditangani sebelumnya.
“Panjang jalan yang ambles mencapai 42 meter dengan lebar sekitar 3 meter. Kedalamannya bervariasi, antara 0,5 hingga 3 meter,” jelas Wisnu.
Selain titik tersebut, terdapat tiga lokasi lain yang juga terdampak bencana. Salah satunya berada di KM 117.600, dekat Kantor Desa di ruas jalan Sukabumi–Baros–Sagaranten, yang sempat tertutup lumpur kiriman dari area perkebunan. Namun, material tersebut telah dibersihkan dan jalur kini bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Menurut Wisnu, amblesnya jalan disebabkan oleh faktor alam yang diperparah oleh kondisi geologis. Jalur tersebut berada tepat di atas zona aktif Sesar Cimandiri yang mengalami pergerakan tanah setiap tahun.
“Ini lebih ke pergerakan tanah, bukan longsor biasa,” ujarnya.
Untuk menjaga kelancaran mobilitas warga, petugas DBMPR Jabar telah menerapkan sistem buka-tutup lalu lintas dan melakukan pengurugan darurat di titik ambles. Selain itu, pemasangan bronjong juga dilakukan guna memperkuat struktur tanah di sekitar lokasi.






