SUKABUMI – Angka bencana alam di Kota Sukabumi, masih tinggi. Terbukti, dari data yang tercatat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sepanjang Januari hingga Mei 2024 terdapat sebanyak 202 kejadian yang tersebar di tujuh kecamatan. Meski tidak ada korban jiwa, namun kerugian ditaksir mencapai Rp3,6 miliar.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Novian Rahmat Taupik menjelaskan, dari jumlah kejadian yang tersebar di tujuh kecamatan se Kota Sukabumi tersebut, sedikitnya 484 unit bangunan rusak, 36 unit rusak berat, 104 unit rusak sedang, 344 unit rusak ringan, dan sebanyak 368 orang terdampak.
“Pada April merupakan frekuensi tertinggi yang dilaporkan masyarakat dengan jumlah 72 kejadian bencana, kemudian disusul Januari 36 kejadian, Maret 39 kejadian, Mei 35 kejadian, Februari 18 kejadian.
Jadi, bencana yang mendominasi cuaca ekstrem dengan 91 kejadian, kemudian tanah longsor 46 kali, banjir 39 kalim angin topan atau beliung 11 kali, kebakaran pemukiman 9 kali, dan terendah gempa bumi sebanyak 6 kali kejadian,” jelasnya.
Adapun, wilayah tertinggi mengalami bencana diantaranya, 43 Kecamatan Gunungpuyuh, dan terendah Kecamatan Cibeureum yang jumlahnya mencapai 16 kejadian. Sedangkan, lima kecamatan lainya masih tergolong tinggi.
“Kalau Kecamatan Warudoyong sebanyak 36 kali kejadian, Lembursitu 32 kali, Citaiang 28 kali, Baros 27 kali, dan Kecamatan Cikole 20 kali kejadian bencana,” paparnya.
Sementara, khusus pada Mei dengan total 35 kejadian rinciannya yaitu, banjir menjadi bencana yang mendominasi sebanyak 15 kali, disusul dengan tanah longsor 13 kali, dan disusul cuaca ekstrem 6 kali, dan terendah bencana kebakaran permukiman 1 kali. Hal tersebut, dikarenakan pada bulan tersebut anomali cuaca yang memasuki puncak musim penghujan.
“Bencana pada Mei kemarin, ada 81 jumlah jiwa yang terdampak, dan 99 unit bangunan yang ditaksir alami kerugian mencapai sekitar Rp1.256.450.000 dengan luas lahan mencapai 0,0817 Ha ikut terdampak,” bebernya.
Menurutnya, BPBD Kota Sukabumi telah melakukan penanggulangan bencana, mulai dari pra bencana, saat dan pasca bencana dalam bentuk upaya-upaya. Diantaranya, melakukan rakor penguatan kapasitas 17 Kelurahan Tangguh Bencana, pembentukan Tim Pusdalops BPBD Kota Sukabumi sebagai penguatan kapasitas kinerja, pemantauan lokasi rawan bencana, dengan melakukan susur sungai bersama Forkopimda di Sungai Cimandiri dan diisi dengan kegiatan pembersihan sungai, serta penanaman pohon di sempadan Sungai Cimandiri, serta melaksanakan Forum Group Discussion (FGD), dalam rangka Penyusunan Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana Tahun 2024.
“Masyarakat tetap waspada. Terutama, disaat musim penghujan yang ditandai dengan intensitas tinggi yang dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi. Seperti, Cuek Balong (Cuaca Ekstrem, Banjir dan Longsor),” tutupnya. (Bam)






