KABUPATEN SUKABUMI

Cerita Eks Buruh Migran Asal Kebonpedes Sukabumi Selamat Dari Ancaman Penyiksaan di Riyadh

×

Cerita Eks Buruh Migran Asal Kebonpedes Sukabumi Selamat Dari Ancaman Penyiksaan di Riyadh

Sebarkan artikel ini
PMI Desa Kebonpedes Sukabumi
Ketua SBMI Kebonpedes dan DP3A Kabupaten Sukabumi, saat mendengarkan keluh kesah Siti Aisyah (35) warga Desa Kebonpedes Kabupaten Sukabumi, yang gagal bekerja sebagai buruh migran di Riyadh.

SUKABUMI – Nasib memilukan menimpa seorang buruh migran bernama Siti Aisyah (35) asal warga Kampung Selaawi, RT 2/RW 2, Desa Kebonpedes, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi.

Bagaimana tidak, perempuan yang semula memiliki keinginan untuk merubah nasib dan membantu suami dan tiga anaknya dengan bekerja di Saudi Arabia. Namun, tidak terlaksana karena telah dipulangkan oleh perusahaan yang memberangkatkannya dengan alasan sakit.

Bank bjb Tandamata

Pada awal tahun 2023, Siti Aisyah berangkat ke Saudi Arabia untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga dan mengikuti pendidikan di PT Riyadh Afdal. Setelah sebulan belajar, ia dinyatakan sakit dan diisolasi selama tiga bulan.

“Alhamdulillah, perusahaan yang menanggung telah memberikan bantuan kepada saya agar bisa pulang ke Indonesia,” kata Siti kepada Radar Sukabumi pada Kamis (02/11).

Selama ia berada di Saudi Arabia, Siti Aisyah menyaksikan banyak kekerasan dan pelecehan yang dialami oleh buruh migran lainnya. Banyak yang hamil dan keguguran, bahkan ada yang meninggal. Tetapi meskipun mengalami banyak kesulitan, Siti Aisyah tetap mempunyai motivasi untuk merubah nasib dan membantu keluarganya.

“Pada Januari 2023 saya berangkat ke Riyadh dan pulang lagi ke sini Agustus 2023. Katanya saya mau dikasih setengah gaji. Tapi, nyatanya nggak,” bebernya.

“Waktu itu saya sekolah sebulan, sudah ujian lulus malah saya beraktifitas, malah saya dinyatakan sakit, diisolasi seperti dipenjara. Diisolasi 3 bulan, setelah itu saya baru dipulangin ke Indonesia,” tandasnya.

Kisah Siti Aisyah memperlihatkan betapa sulitnya hidup sebagai buruh migran di luar negeri, yang seringkali penuh dengan kekerasan dan ketidakpastian. Namun, harapan dan tekad untuk memperbaiki nasib tetap ada di hati mereka, yang terus merintis perjuangan demi bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka.