Kediri sudah sejak lama memiliki kelompok penghayat kepercayaan. Namun, keberadaannya tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas. Kini, mereka pun mulai bisa lebih terbuka dan berbaur dengan masyarakat.
RAMADANI WAHYU N.
Sebuah bangunan bercat hijau yang ada di Jalan Pandan Nomor 40, Pare, Kediri siang kemarin tampak sepi. Sekilas, bangunan itu sebenarnya tidak ada bedanya dengan bangunan lainnya yang ada di sekitarnya. Yang membedakan adalah ornamen yang ada di dalam bangunan tersebut. Itulah sanggar peribadatan bernama Sanggar Agung Candi Busana.
Begitu masuk, tampak karpet hijau menghampar. Di salah satu sisi dinding bangunan itu terpampang ornamen berupa simbol-simbol. Itu semua merupakan simbol-simbol dari Sapta Darma. Termasuk, ada pula foto pendiri ajaran tersebut, yakni Bapa Panutan Agung Sri Gutama dan Ibu Tuntunan Agung Sri Pawenang.
Tepat di tengah-tengah, ada sebuah gambar tokoh pewayangan Semar. Tidak sekadar gambar, tern
yata Semar memiliki makna khusus. “Kami bukannya menyembah Semar atau apa, tapi Semar itu kan bukan laki-laki bukan perempuan, yang maknanya samar. Seperti itulah manusia dihadapan Allah,” ujar Ketua Penghayat Sapta Darma Yousep Dwi Saputro.



