Yousep mengaku bahwa ia sangat senang jika Sapta Darma bisa diterima oleh beberapa tokoh agama. Dalam istilah yang digunakannya, yaitu sinergis. “Ya senang kalau bisa sinergis dengan agama sekitar, saling toleransi begitu, Mbak,” ujarnya.
Lelaki berumur 35 tahun ini mengingatkan bahwa dalam penghayat Sapta Darma yang terpenting adalah lelaku dari seseorang. Dan hal itu yang biasa nampak ketika seseorang sedang sujud. Entah ia bisa meng-Esakan Allah atau tidak. Sujud menghadap ke timur yang selalu dilakukan warga Sapta Darma itu bukan sekadar sujud.
“Kami bukan menyembah matahari, Mbak. Tapi kami yakin sumber kehidupan berasal dari timur,” ujarnya. Hal ini diwujudkan dengan sumber kehidupan dari matahari yang bisa menumbuhkan pepohonan, tumbuhan, adanya fotosintesis, hingga rantai makanan pada hewan dan manusia. Semuanya berasal dari arah timur.
Adapun sesanti atau semboyan Sapta Darma dalam basa Jawa berbunyi: Ing ngendi bae, marang sapa bae, warga Sapta Darma kudu seminar pindha baskara (Di mana saja , kepada siapa saja, warga Sapta Darma harus senantiasa bersinar laksana surya). Sesanti ini bermakna bahwa setiap warga Sapta Darma diwajibkan untuk selalu siap membantu siapa saja yang memerlukan bantuan. “Kami tak pilih-pilih dalam membantu sesama,” pungkasnya.(rk/die/die/JPR)



