NASIONAL

Penghayat Sapta Darma di Kediri Merasa Tenang karena Lebih Diterima di Masyarakat

×

Penghayat Sapta Darma di Kediri Merasa Tenang karena Lebih Diterima di Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Masalah keyakinan tentu merupakan masalah paling privasi dari kehidupan seseorang. Bagi Yousep, ia tak peduli dengan tetek bengek urusan administrasi pemerintahan. Terlepas ia juga membutuhkannya. Buktinya, ia rela mengosongkan kolom agama. “Ya, dulunya ketika Sapta Darma masih dianggap sebelah mata pasti mengalami kesulitan mengurus administrasi,” jelasnya.

Bahkan, menurut Yousep, beberapa jamaahnya juga ada yang masih takut mengosongkan kolom agama. Sehingga memilih untuk menuliskan agama lain di KTP. Padahal saban harinya ke sanggar. Begitu juga sebaliknya. Ada seseorang yang juga beribadah ke tempat peribadatan lain, tapi di lain waktu ke sanggar. “Tidak apa-apa, semua orang berhak memilih,” terangnya.

Bank bjb Tandamata

Agaknya Yousep selalu menanggapi sesuatu dengan santai. Barang kali ini juga menjadi doktrin dari Penghayat Sapta Darma untuk tidak mengajak ataupun memaksa seseorang untuk ikut dalam Sapta Darma. “Kami tidak melarang siapapun untuk belajar Sapta Darma ke sini, tapi kami tidak mengajak,” jelasnya.

Alhasil, menurut Yousep, beberapa tokoh agama Islam, Kristen, Katolik juga sering berkunjung ke sanggar. Beberapa di antaranya mengikuti menyembah, istilah yang digunakan untuk sujud atau beribadah dalam Sapta Darma. Acara menyembahpun dalam Sapta Darma harus diluangkan waktunya untuk beribadah. Harus ada waktu yang disiapkan untuk menyembah. Jadi pada saat sujud harus fokus, bukan memikirkan hal lain. “Semacam meditasi, dan tidak terbatas waktu” ujar Yousep.

Dalam sujud Sapta Darma itu, menurut Yousep selain membaca doa juga memusatkan fikiran pada Allah yang tunggal. Bukan yang lain. Bahkan dalam tataran tertinggi seseorang bisa manunggaling kawula dengan Allah. Tak ayal, beberapa tokoh agama sering berkunjung ke sini. “Mereka rata-rata belajar di sini tentang makrifat,” jelasnya.