SAYA memperkirakan massa malam itu lebih dari 50 ribu orang. Saya benar-benar berada di tengah lautan manusia. Melihat ke empat penjuru mata angin, mata saya tidak menemukan ujung kerumunan besar itu. Inilah magnet Malioboro di malam pergantian tahun 2021 ke 2022.
Jalan Malioboro mulai dari ujung Selatan sampai dengan ujung Utara sesak, di trotoar yang lebar maupun di badan jalan. Jalan KH Ahmad Dahlan dari dua arah, Jalan Panembahan Senopati dari dua arah, jalan dari ujung Malioboro sampai dengan alun-alun sesak. Arus manusia mengalir dari berbagai penjuru jalan di kawasan itu memang menuju satu titik: Kilometer 0, untuk merayakan pukul 00:000.
Titik Kilometer 0 Yogyakarta berada di antara Museum Serangan Umum 1 Maret dan Gedung Agung Yogyakarta, di pertemuan Jl. Malioboro, Jl KH Ahmad Dahlan dan Jl. Panembahan Senopati. Titik ini benar-benar menjadi lautan manusia.
Guna mencapai depan Museum Serangan Umum 1 Maret saja, saya harus berjuang habis-habisan menembus rapatnya manusia yang tenang berdiri atau pun duduk lesehan. Tradisi lesehan di Malioboro tampak semakin diabadikan pada malam pergantian tahun ini. (videonya lihat di IG hazairin sitepu)
Jalan Malioboro malam itu memang tidak ditutup untuk kendaraan bermotor. Karena itu ada beberapa mobil tampak dengan susah-payah menembus lautan manusia yang memenuhi hampir semua badan jalan. Polisi memang bekerja keras mengatur supaya mobil-mobil itu bisa lolos.
Mengapa Jl. Malioboro tidak ditutup saja untuk kendaraan bermotor, khusus pada Jumat malam sampai dengan pukul 01:00 di hari Sabtu? Kemungkinan ada pemikiran pemerintah daerah atau kepolisian untuk mengurangi peluang kerumunan yang lebih besar di kawasan Malioboro pada malam pergantian tahun.
Protokol kesehatan malam itu samaskali tidak bisa dijalankan 100 persen oleh puluhan ribu orang yang hadir di situ. Mereka sebagian besar memang mengenakan masker. Rapi. Tetapi tidak bisa menjaga jarak. Dan sangat sulit untuk bisa membuat jarak antara orang yang satu dengan lainnya. Semoga mereka semua ‘mandi wajib’ setelah pulang dari ritual pukul 00:00 itu.
Kerumunan besar pada malam pergantian tahun di Malioboro itu apakah memberi pengaruh negatif terhadap penambahan jumlah angka penularan Covid-19 di Yogyakarta? Atau di Indonesia? Karena yang berada di situ malam itu banyak orang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Saya mendengar dialek Sunda, Ambon, Bugis/Makassar, Batak, Jakarta.
Angka penularan Covid-19 di Yogya pada 31 Desember 2021 sejumlah enam kasus. Angka positif harian secara nasional pada hari yang sama sejumlah 180 kasus dengan enam kematian. Kita tunggu satu sampai dua minggu lagi. Jika tidak ada penambahan yang signifikan, maka kerumuman besar, lautan manusia, di Malioboro pada malam pergantiaan tahun itu tidak memberi pengaruh negatif terhadap angka penularan Covid-19.
Sehingga, bisa disimpulkan, secara nasional, bahwa kegiatan-kegiatan masyarakat dengan jumlah orang yang banyak dapat dibolehkan. Malam pergantian tahun di Malioboro menjadi preseden bagi semua pihak untuk membuat kegiatan dengan menghadirkan banyak orang. Misalnya, konser, nonton sepakbola di stadion, jalan santai massal, hajatan, dan lain-lain semacamnya. Bogor punya beberapa even besar tahunan: Street Festival (Cap Go Meh), Festival Merah-Putih, Helaran, BogorKu Bersih, dll. Daerah-daerah lain di Indonesia juga punya kegiatan dan kreasi yang menghadirkan banyak orang. Kita tunggu.
Semoga tahun 2022 ini lebih sehat, lebih damai, lebih saling menghargai, lebih adil, lebih beradab. **






