Wafatnya Ahmad Budi Cahyono guru honorer dedikatif dan prestatif di SMAN1 Torjun, Jawa Timur menjelaskan realitas derita Sang Pendidik. Haruskah sejumlah kisah derita honorer terus berlanjut? Stop!
Dua tahun sebelumnya Agung Sang Guru Honorer Kota Sukabumi wajahnya sobek dan harus dijahit terkena pecahan kacamata yang hampir membutakan matanya karena pukulan bertubi-tubi yang dilakukan anak didiknya. Lagi dan lagi anak didik yang melakukannya.
Mengapa anak didik berani menganiaya gurunya? Banyak variabel yang bisa menjadi penyebabnya. Ada satu peristiwa yang masih saya ingat tragedi anak disuruh orangtua menampar wajah gurunya. Aop Saopudin guru honorer karena mencukur anak didiknya harus menerima pelecehan yang kelewat batas ditampar dimuka umum oleh anak didiknya atas perintah orangtuanya.
Mungkinkah pelecehan profesi ini adalah asbab pemerintah yang telah abai pada nasib guru honorer? Mungkinkah beragam tindak diskriminasi oleh anak didik, orangtua, LSM dan bahkan oknum aparat adalah sebuah tindakan yang terinspirasi dari sikap diskriminatif pemerintah pada guru honorer? Sehingga sejumlah orang ikut melakukan tindak diskriminatif bahkan pelecehan? Korelatifkah? Bisa ya bisa tidak. Atau bisa sangat korelatif.
Sahabat pembaca kalau kita mau “membaca” rahasia alam jagat kemanusiaan saat ini berkaitan nasib guru honorer maka dapat kita simpulkan. Dibalik kematian guru honorer di atas saat moment Konkernas V di Batam tahun 2018 ini membawa pesan “SEGERA PERBAIKI NASIB GURU HONORER!!!” Bila tidak maka wajah guru Indonesia akan terus terlihat bernoda dan ternoda.
Wajib bagi kita satu rasa, satu hati, satu tubuh untuk ikut serius mempejuangkan nasib guru honorer.
Konkernas harus memberi solusi atas naas sesama guru yang merupakan bagian dari wajah kita. Ratusan ribu guru honorer saat ini sedang menunggu, apa yang disuarakan Konkernas Batam tentang mereka “dimoment” pilu wafatnya Sang Guru Honorer Prestatif.
Dari diskusi dan serap aspirasi guru honorer Kota Sukabumi sehari sebelum berangkat ke Batam saya menangkap beberapa harapan mereka.
Pertama, segera pemerintah memperbaiki kesejahteraan guru honorer. Segera pemerintah membuka penerimaan CPNS dengan jalur afirmatif yang menghargai dedikasi dan prestasi para guru honorer yang sudah lama mengabdi. Segera revisi RUU ASN agar lebih manusiawi dan bijak pada para honorer.
Kedua, mohon sinergi PGRI, Kemdikbud, Menpan RB dan semua pihak terkait segera membuat regulasi yang pro guru honorer. Permendikbud, PP dan beragam regulasi pro guru masih sangat dibutuhkan saat ini.
Bagi mayoritas guru honorer pemerintah masih dipersepsi eksploitatif, diskriminatif dan destruktif.
Ini ungkapan natural mereka atas realitas nasib mereka saat ini.
Sahabat PGRI dan jamaah Konkernas Batam mari kita empatik dan bertindak nyata bagi guru honorer yang masih menggap-menggap menunggu regulasi yang afirmatif dan berkeadilan sosial sesuai sila dasar negara kita.
Selamat berkonkernas! Bersatulah seluruh guru Indonesia.
Mari membangun prestasi dalam kebersamaan yang egaliter dan bermartabat. Hanya kekuatan persatuan guru republik Indonesia yang masih bisa diharapkan memperbaiki nasib guru. Luka ditubuh kita akan sembuh oleh kekuatan kesabaran dan komitmen kita untuk terus menyembuhkan diri.
Kita berharap tidak ada lagi guru potensial yang wafat karena anak didiknya. Ini sebuah kecelakaan sejarah yang terlahir dari tindak imitatif destruktif publik atas sikap pemerintah terhadap nasib honorer.
Para penguasa negeri, kita semua tidak akan sejahtera secara utuh selama negeri ini masih memperlakukan para guru belum pada kewajarannya, terutama pada guru honorer. Selama masih ada guru bergaji dibawah UMP/UMK maka selama itu pula suatu negeri akan jauh dari keberkahan.
Ingat!!! Setidaknya sudah dua kali dimoment kegiatan guru secara nasional dua guru meninggal dibunuh. Seolah memberikan pesan bahwa nasib guru masih butuh perlindungan baik PNS maupun honorer.
Tatang Wiganda guru muda PNS dibunuh di Bandung saat moment Porseninas Riau, Ahmad Budi Cahyo “terbunuh” saat moment Konkernas V Batam. Ayo kita terus berjuang dan waspadalah!. (*)





