PENDIDIKAN

Lima Mahasiswa Farmasi Unair Ciptakan Djengkolic, Kosmetik Berbahan Dasar Kulit Jengkol

×

Lima Mahasiswa Farmasi Unair Ciptakan Djengkolic, Kosmetik Berbahan Dasar Kulit Jengkol

Sebarkan artikel ini
UNTUK KULIT: Dari kiri, Rizki Amalia Arifiani, Kholidatul Fauziyah, Mazhar Ardhina Silmi, Diah Ayu Laraswati, dan Nursanti Arya Pratiwi membawa produk karya mereka.

RADARSUKABUMI.com – Banyak yang menyukai semur jengkol, rendang jengkol, atau keripik jengkol. Namun, bagaimana kosmetik dari jengkol? Bisa dicoba juga. Klaimnya,kaya antioksidan untuk melawan penuaan dini dan mencerahkan kulit.

Riset pun mereka jalankan. Pertanyaan mengapa Korea Selatan begitu mendominasi terjawab. Korea Selatan membanjiri pasar kosmetik karena unggul di bidang bahan alam. Bahannya unik-unik. Mulai abu vulkanik, lidah buaya, hingga lendir siput. Tak mau kalah dengan kesuksesan Korea Selatan, mereka bertekad menciptakan produk kosmetik yang tidak kalah unik.Bahkan, anti-mainstream. Dicarilah literatur di kampus. Ditemukanlah kulit jengkol yang ternyata menyimpan banyak senyawa yang bermanfaat bagi kulit.

Bank bjb Tandamata

Salah satunya adalah kandungan vitamin C dan metil galat yang tinggi untuk antioksidan sebagai anti-penuaan dan bisa mencerahkan kulit. ”Kadarantioksidan pada kulit jengkol ini lebih tinggi dibandingkan kulit petai,” jelas Silmi, sapaan akrab Mazhar Ardhina Silmi.

Setelah menentukan bahan yang akan dijadikan bahan baku kosmetik, mereka terjun ke lapangan untuk mencari petani jengkol. Di Surabaya mereka tidakmenemukan yang dicari. Tapi, mereka tidak kurang akal. Ziyah, panggilan akrab Kholidatul Fauziyah, langsung menuju pasar.

Mencari penjual jengkol. Sambil tanya-tanya siapa pemasok jengkol kepada si pedagang. Ketemu. Pedagang memberi tahu bahwa pemasok jengkol berada di Kediri. Mereka pun bertemu dan meminta kontak petani jengkol kepada pedagang. Yang langsung disanggupi oleh petani. ’’Kami sepakat untukkerja sama,” jelas Ziyah.

Selama ini, kulit jengkol memang tidak pernah dimanfaatkan oleh petani. Setelah dipanen dan biji jengkol diambil, kulitnya biasanya hanya dianggap sebagai limbah. Tidak dilakukan pengolahan. Bahan yang mereka dapat kemudian diolah dengan teknik ala anak Farmasi. Bahan yang sudah kering langsung diekstraksi.

Hasil ekstraksi itulah yang dicampur dengan bahan-bahan lain untuk jadi Djengkolic siap pakai. ”Awal nyampur gagal. Karena bahan campuran terlalu encer. Tapi, percobaan kedua langsung menemukan formula yang pas,” tuturnya.Campuran serbuk kulit jengkol dengan gel membuat tampilan Djengkolic cukup menarik. Butiran kulit jengkol dan gel menjadi semacam scrub alami. ”Makanya ini kami sebut Djengkolic 2 in 1,” tuturnya.

Bisa digunakan untuk facial wash dan facial scrub. Anggota Djengkolic lain, Diah Ayu Laraswati, mengungkapkan bahwa saat ini Djengkolic mulaidipasarkan. Strateginya melalui jaringan pertemanan dan lewat online shop.Meski baru dimulai tahun ini, peminat Djengkolic sudah sampai ke beberapa daerah. Di Jatim ada yang dijual ke Blitar, Malang, Pasuruan, dan Trenggalek.Di luar itu, Djengkolic sudah laku di Cimahi, Bengkulu, hingga Papua.

Produk mereka sudah diuji lewat laboratorium Unit Layanan Pengujian Farmasi Unair. Ke depan, mereka mendaftarkan produknya ke BPOM untukstandardisasi produk. Selain Djengkolic, mereka berharap mampu menciptakan produk berbahan alam lain. ”Semoga bisa terus kami kembangkankosmetik berbahan dasar alam Indonesia yang ramah lingkungan,” terangnya.

 

(*/c6/tia)