WISATA

Mengintip Ambisi Belitung Jadi Geopark Dunia

×

Mengintip Ambisi Belitung Jadi Geopark Dunia

Sebarkan artikel ini

Perlahan, sejak 2014 Wandi mengajak warga Terong membangun kampung mereka. Bekas rawa ditata. Menjadi pusat desa wisata. Tidak kurang dari 1,5 hektare luasnya. Sampai sekarang, tiap akhir pekan, warga Terong masih berbondong-bondong ke pusat desa wisata. ”Mereka menyumbang apa saja, bisa tenaga, material, atau uang. Semuanya swadaya, tanpa bantuan pemerintah,” kata Wandi.

Belum sepenuhnya selesai, tapi sudah terlihat betul perubahannya. Setelah gazebo, resto, area pemancingan, dan kolam renang, kini yang masih dikerjakan adalah musala, toilet, dan penginapan. Rumah adat Belitung berdiri kukuh tepat di hilir sungai Desa Terong. Nanti rumah khas masyarakat Belitung itu diubah menjadi museum kecil. Bisa terhubung langsung dengan pusat desa wisata.

Bank bjb Tandamata

Cukup dengan menyisir sungai menggunakan sampan, sepuluh menit sudah sampai. Sayang, ketika Jawa Pos mengunjunginya dua pekan lalu, jalur sungai itu belum bisa dilewati. Sebab, ranting pohon di kanan dan kiri sungai masih harus dirapikan supaya tidak melukai pengunjung.

Menjelang petang, para remaja Desa Terong biasa berbondong-bondong menuju sungai tersebut. Ada yang jalan kaki, lari, atau menunggang sepeda. Mereka lantas melepas pakaian dan byurrrrr. Berenang serta tertawa riang bersama.

Perubahan itu pun menjadikan Terong bukan lagi desa yang tak dilirik. Tapi desa yang justru disinggahi. Setahun belakangan, jumlahnya sudah lebih dari 5 ribu pengunjung. Agar mereka betah, lalu datang kembali, warga Terong punya strategi. Wisatawan disambut bak keluarga sendiri.

Selalu diajak berkomunikasi dan berinteraksi. Sehingga mereka merasa seperti di rumah sendiri. Setidaknya ada 23 rumah dengan 31 kamar yang bisa dijadikan homestay. Perubahan besar di Terong secara swadaya itu pun mendapat apresiasi pemerintah. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menjadikan Terong sebagai desa wisata pertama sekaligus percontohan di Belitung.

Semangat itu pula yang membuat Badan Pengelola Geopark Belitung menunjuk Desa Terong sebagai salah satu andalan untuk mewujudkan cita-cita Belitung menjadi geopark pertama di Sumatera. Selain Desa Terong, ada Bukit Peramun, Kuale Sijuk, Juru Sebrang, Batu Bedil, Open Pit Nam Salu, dan Pantai Burung Mandi. Ada pula Hutan Kerangas, Gunung Lumut, serta dua pilihan terakhir: Batu Pulas atau Pulau Keran.

Belitung memang kaya akan geosite. Sekitar 40 tersebar di seisi Belitung. Sedikitnya 32 masuk radar Badan Pengelola Geopark Belitung. Menurut Dyah Erawati, ketua Badan Pengelola Geopark Belitung, di antara sekian banyak potensi, Belitung punya empat keunggulan yang setara dengan warisan geologi global di berbagai penjuru dunia.

Salah satunya kekayaan geomorfologis berupa bebatuan granit di laut, pantai, dan daratan. Konon, umur bebatuan granit di Belitung jauh lebih tua daripada bebatuan serupa di Brasil. Ada yang bilang, yang tertua di Negeri Samba adalah yang paling muda di Belitung. Selain itu, Belitung punya batu satam yang berasal dari jatuhan meteorit. ”Itu langka di dunia. Nggak banyak yang punya,” kata Dyah kepada Jawa Pos.

Sebagai langkah awal, di pembukaan Festival Geopark Belitung kemarin, Belitung dianugerahi plakat geopark nasional. Seusai festival yang bakal berlangsung hingga Minggu lusa (26/11) itu, Badan Pengelola Geopark Belitung bakal langsung bersiap mengajukan diri menjadi bagian Unesco Global Geoparks. ”November 2018 proposalnya kami kirim ke Unesco,” ucap Dyah.

Selanjutnya, Unesco langsung menilai Belitung. Sangat mungkin penilaian dilaksanakan April 2019. Lima bulan berikutnya, hasilnya diumumkan. ”Kalau lulus ya berarti masuk jaringan Unesco Global Geoparks. Dan itu akan memecahkan rekor dunia sebagai tempat yang tercepat terpilih sebagai geopark dunia,” imbuhnya.

Tapi, lanjut Dyah, yang terpenting sebenarnya bukan pengakuan dunia itu. Yang jauh lebih krusial adalah kian terbukanya kesadaran warga Bumi Laskar Pelangi bahwa pulau mereka punya banyak kekayaan lain di luar timah.

Jadi, mereka bisa hidup dari kekayaan alam yang tidak merusak, tidak pula mendatangkan bencana. ”Lingkungan yang indah terkonservasi, generasi muda bisa menjadi penjaga pulaunya. Bisa menciptakan sustainable tourism, green tourism,” tutur Dyah.

Timah memang telah menjadi napas Belitung selama ini. Tapi, dampaknya, mereka jadi sangat bergantung pada hasil tambang tersebut. Padahal, sudah tidak terhitung lubang bekas galian timah di tempat mereka tinggal.

”Sementara jumlah sisa galian timah terus bertambah, masyarakat tetap begitu-begitu saja,” katanya.
Yang terjadi di Terong bisa menjadi contoh, asal mau berubah, banyak potensi yang dapat digali. Lingkungan terselamatkan dan sumber pendapatan baru didapatkan. ”Kami belajar dari Pak Dahlan (Iskan). Kalau mau bikin sesuatu, jangan nunggu ada uang,” tutur Dyah.(*/c9/ttg)