Di distrik inilah mantan wakil presiden melakukan konsolidasi kekuatan. Senjata-senjata ex Soviet dan Amerika dibawa ke kampung itu. Sang mantan wapres mendeklarasikan diri sebagai pejabat sementara Presiden Republik Afghanistan. Itu, katanya, didukung kedutaan Afghanistan di Tajikistan –yang masih satu suku dengan mantan wapres.
Taliban tidak terlihat berang atas pernyataan itu. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyerang distrik itu. Para ahli di Pakistan menilai penguasaan distrik Panjshir itu tidak akan menjadi faktor konflik yang lebih besar.
Para pengamat di Pakistan juga menilai Taliban sudah “berubah”. Mereka tidak menggunakan kata ”berubah” melainkan ”sudah lebih berpengalaman”.
Iran, Pakistan, dan Afghanistan jelas di tangan Tiongkok. Tiga-tiganya negara Islam dengan gaya masing-masing. Tiongkok begitu kuat memegang filsafat Deng Xiaoping ini: tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.
Paku kecil cukup pakai palu kecil. Untuk paku besar barulah pakai palu besar.




