Kedua, ada dua faktor nalar bermakna yang hanya dimiliki ibadah puasa:
a) Bahwa puasa itu sebuah sikap ketahanan diri dan pengabaian, di dalamnya ada rahasia (sirr) yang tak terdapat di ibadah lainnya yang bisa terlihat. Seluruh amal ketaatan (lainnya) bisa tersaksikan makhluk hidup ciptaan-Nya dan terlihat, tidak dengan puasa. Hanya Allah semata yang bisa melihatnya. Itu karena, sekali lagi, puasa merupakan amal ibadah batin dengan memfungsikan kesabaran yang menjernihkan.
b) Bahwa puasa itu pengekang musuh Allah, sebab jalur Setan (menggoda manusia) hanya melalui syahwat. Sedang syahwat hanya bisa diperkuat dengan makan-minum. Oleh karena itu, Baginda Muhammad Saw pernah mengingatkan kita, “Sesungguhnya Setan berjalan melalui aliran darah Ibn Adam, maka persempitlah kalian jalur-jalurnya dengan lapar!” (HR. Muttafaq ‘alaih).
Masih mengenai puasa yang melemahkan syahwat dengan rasa lapar, suatu hari Rasulullah Saw berpetuah kepada Siti ‘Aisyah (w. 58 H/613-678 M), “Kebiasaanku telah mengetuk pintu surga.” Istri tercinta pun bertanya, “Dengan apa, wahai Baginda Rasul?”
“Dengan lapar,” jawab sang Rasul. Puasa khususnya mampu mengekang Setan, menyumbat jalur-jalurnya, dan mempersempit lintasan-lintasannya, maka sunggah pantaslah ibadah ini Allah spesialkan dengan menasbihkan puasa hanya untuk dan milik-Nya. Sebab hanya dengan mengekang musuh-Nya, pembelaan terhadap (agama) Allah terwujud, dan hamba yang membela (agama) Allah pasti akan ditolong-Nya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Q.S Muhammad: 7).
Permulaan itu dengan kesungguhan perjuangan dari diri seorang hamba, dan pasti akan dibalas dengan sebuah petunjuk (hidayah) dari Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, Allah berjanji, “Dan orang-orang yang berjuang demi (mencari keridhaan) Kami, niscaya benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(Q.S. Al-Ankabut : 69)
Allah Subhanahu Wata’ala juga pernah menegaskan;





